Abdul Hadi W.M. (Indonesia) | Abidah El Khalieqy (Indonesia) | Acep Zamzam Noor (Indonesia) | Agus Noor (Indonesia) | Amarzan Ismail Hamid (Indonesia) | Avi Basuki (Indonesia) | Ayu Utami (Indonesia) | Beni Setia (Indonesia) | Chris Keulemans (Belanda) | Cyril Wong (Singapura) | Darmanto Jatman (Indonesia) | Dewi Lestari (Indonesia) | Dorothea Rosa Herliany (Indonesia) | Edmundo Paz Soldán (Bolivia) | Es Wibowo (Indonesia) | F. Rahardi (Indonesia) | Feryal Ali-Gauhar (Pakistan) | Ghassan Zaqtan (Palestina) | Gus tf (Indonesia) | Hamsad Rangkuti (Indonesia) | Hao Yu-hsiang (Taiwan) | Hassan Daoud (Lebanon) | Idanna Pucci (Italia) | Iman Budhi Santosa (Indonesia) | Intan Paramaditha (Indonesia) | Jerome Kugan (Malaysia) | Joko Pinurbo (Indonesia) | Joni Ariadinata (Indonesia) | Kangni Alem (Togo/Prancis) | Kimberley Blaeser ( AS) | Laksmi Pamuntjak (Indonesia) | Lan Po-chou (Taiwan) | Mamang Dai (India) | Mong-Lan (Vietnam) | Oka Rusmini (Indonesia) | Remy Sylado (Indonesia) | Sam Wagan Watson (Australia) | Sean M Whelan (Australia) | Sharanya Manivannan (India / Sri Lanka / Malaysia) | Shin Joong Seun (Korea Selatan) | Sindhunata. SJ (Indonesia) | Terence Ward (AS) | Triyanto Triwikromo (Indonesia) | Ugoran Prasad (Indonesia) | Violetta Simatupang (Indonesia) |
Abdul Hadi W.M. (Indonesia)
(Sumenep, Madura, 1946) memperoleh pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan dan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Pada 1973-74 mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, AS. Buku puisinya antara lain Laut Belum Pasang (1971), Potret Panjang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1975), Tergantung Pada Angin (1982), Anak Laut Anak Angin (1982), Pembawa Matahari (2000), Madura, Luang Prabhang: Seratus Puisi (2006), dan Dari Hitu ke Barus (2007). Ia mendapat penghargaan Anugerah Seni Pemerintah RI (1979), SEA Write Award dari Pemerintah Thailand (1985), dan Hadiah Mastera (Majlis Sastra Asia Tenggara) di Kuala Lumpur (2003). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan dan menulis sejumlah buku tentang sastra sufi dan kebudayaan Islam.
Abidah El Khalieqy (Indonesia)
(Jombang, Jawa Timur, 1965) adalah penulis yang telah menerbitkan Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), dan Geni Jora (2004). Tahun 1999 ia mendapat Penghargaan Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Acep Zamzam Noor (Indonesia)
(Tasikmalaya, 1960) menuntaskan pendidikannya di Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987) dan sempat tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). Puisi-puisinya yang sudah terbit antara lain Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbria (1999), Dongeng dari Negeri Sembako (2001), Jalan Menuju Rumahmu (2004), dan sebuah kumpulan puisi Sunda, Dayeuh Matapoe (1993). Ia beberapa kali mendapat penghargaan, seperti Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2000 dan 2005), The SEA Write Awards 2005 dari Kerajaan Thailand (2005), dan Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Jawa Barat (2006).
Agus Noor (Indonesia)
(Tegal, 1968) telah menulis sejumlah kumpulan cerpen: Memorabilia (1999), Bapak Presiden yang Terhormat (2000), Selingkuh itu Indah (2001), dan Rendezvous – Kisah Cinta yang Tak Setia (2004). Tahun 1992, cerpennya yang berjudul “Musuh” memperoleh penghargaan sastra Festival Kesenian Yogyakarta. Tiga cerpennya yang lain, “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru”, “Tak Ada Mawar di Jalan Raya” dipilih Dewan Kesenian Jakarta masuk Anugerah Cerpen Indonesia pada 1999. Prosa “Pemburu” dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik majalah sastra Horison periode 1990-2000. Tahun 1998 mengikuti Writing Program Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera).
Amarzan Ismail Hamid (Indonesia)
(Sumatera Utara, 1941) menulis puisi sejak 1956, disiarkan di berbagai surat kabar dan majalah di Medan dan Jakarta. Ia juga menulis cerita pendek, novelet, naskah sandiwara, esai, dan kritik. Ia bekerja sebagai wartawan. Tahun 1968-1979 oleh rezim Soeharto ia dijebloskan ke Nusakambangan dan Pulau Buru. Kumpulan sajaknya, Memilih Jalan (1965), tak sempat beredar karena diberangus penguasa militer pada masa itu.
Avi Basuki (Indonesia)
Avi Basuki bekerja sebagai model ketika pertama kali mulai menulis. Atas permintaan Seno Gumira, ia menulis tentang wisata untuk Jakarta Jakarta, majalah yang telah tiada itu. Namun cintanya pada sastra tetap berkembang, ia aktif menulis dari Milan. Buku pertamanya, Tango, terbit bersama dua film singkat tentang subyek yang sama. Ia kini mengerjakan buku berikutnya, masih tentang tari. Selain menulis ia juga seorang jurnalis wisata, fesyen dan desain untuk berbagai publikasi Indonesia, sekaligus bekerja sebagai seniman digital untuk Televisionet – sebuah Web TV di Milan dan telah bekerja di berbagai film layar lebar seperti Malena Vajont, Extreem Ops, dsb. Yoga, wisata dan tari, terutama Tango, tetaplah cinta sejatinya.
Ayu Utami (Indonesia)
(Bogor, 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis. Besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ia pernah menjadi wartawan di ma jalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Ia dikenal sebagai novelis sejak novel pertamanya, Saman, memenangi Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998, dan mendapat sambutan dari sejumlah kritikus serta dianggap memberi warna baru dalam sastra Indonesia. Berkat Saman pula, ia mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag dengan misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Awal 2002, ia meluncurkan novel keduanya, Larung.
Beni Setia (Indonesia)
(Bandung, 1954) menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertanian Atas, Soreang, 1974, dan setelah itu belajar sastra secara otodidak. Menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia berupa puisi dan cerpen serta artikel seputar masalah sosial budaya. Bukunya yang telah terbit, Legiun Asing: Tiga Kumpulan Sajak (1987), Dinamika Gerak (1990), dan Harendong (1996).
Chris Keulemans (Belanda)
Chris Keulemans (1960) mencuat pada tahun 1992 dengan novela Overal om me heen is ruimte (Di sekitarku ada ruang), yang disusul Een korte wandeling in de heuvels (Jalan pendek di perbukitan). Ia juga menulis Van de zomer naar de werkelijkheid (Dari musim panas ke kenyataan). Dalam tiga buku ini ia mempertimbangkan berbagai minat pribadi seperti sepak bola, mengelola took buku di Eropa Timur. Karya terbarunya, sebuah proyek multi-media yang berjudul De Amerikaan die ik nooit geweest ben (Orang American yang tak Pernah Kujelma) (2004), terdiri dari novel, dokumentasi foto pada dvd, sebuah dokementer radio dan situs internet. Sejak 1990 sampai 1998 Keulemans bekerja di pusat politik dan budaya De Balie, tiga tahun terakhir sebagai direktur. Ia rutin menerbitkan karyanya di surat kabar De Volkskrant, Vrij Nederland dan di majalah sastra De Gids.
Cyril Wong (Singapura)
(Singapura, 1977) adalah penyanyi countertenor dan penyair, penulis lima antologi puisi dan sebuah novel sajak Excess Baggage and Claim (2007), dan pemenang Young Artist Award kategori Sastra (2005) dari National Arts Council of Singapore serta Singapore Literature Prize (2006). Puisi-puisinya telah diadaptasikan ke dalam tari, drama, film dan musik. Kolaborasi ini telah ditampilkan di berbagai negara, termasuk di Pesta Kesenian Bali 2005 dan Festival Internasional Wanita dalam Teater Kontemporer Magdalena (AS, 2005). Puisi-puisinya telah tampil dalam berbagai jurnal seperti Atlanta Review, Fulcrum 3, Poetry Inernational, Dimsum dan Poetry New Zealand.
Darmanto Jatman (Indonesia)

(Jakarta, 1942) menyelesaikan kuliah di Yogyakarta. Dididik secara Kristen di tengah keluarga priayi Jawa, ia kemudian tertarik pada teologi, filsafat, dan psikologi. Sebagai penyair, ia banyak menggunakan metafor kejawen dalam puisi-puisinya. Buku puisinya yang sudah terbit, Isteri dan Anak. Ia mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang. Di kota inilah ia kini tinggal bersama keluarganya.
Dewi Lestari (Indonesia)
Dewi Lestari Simangunsong (Dee) lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Menempuh pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan. Lebih dulu dikenal sebagai penyanyi dalam trio vokal RSD (Rida, Sita, Dewi). Namanya termasuk dalam jajaran penulis perempuan setelah terbit bagian pertama dari trilogi novelnya “Supernova Satu”: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001), yang dilanjutkan dengan seri berikutnya “Akar” (2002) dan “Petir”(2004).
Dorothea Rosa Herliany (Indonesia)
(Magelang, Jawa Tengah, 1963) pendiri Rumah Akar Institution, sebuah lembaga nirlaba, di Magelang, dan penerbit Indonesia Tera di Yogyakarta. Beberapa kali sudah ia menerima penghargaan, seperti dari Menteri Negara Lingkungan Hidup RI (1994), PWI Jawa Tengah (1995), Dewan Kesenian Jakarta (2000), Pusat Bahasa (2003), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, dan Khatulistiwa Literary Award (2006). Bukunya yang sudah terbit di antaranya Kill The Radio (bilingual, 2007 [2001]), Life Sentences (sajak pilihan, bilingual, 2004), dan Santa Rosa (bilingual, 2006 [2005]).
Edmundo Paz Soldán (Bolivia)
(Bolivia, 1967) menulis tujuh novel dan dua kumpulan cerpen. Ia dianugerahi penghargaan National Book Award Bolivia 2002 untuk Turing’s Delirium dan Fellowship Guggenheim 2006. Pengajar di Cornell University ini juga pernah memenangkan Juan Rulfo Award yang bergengsi. Sebagai salah seorang penulis McOndo yang tinggal di Amerika Serikat, ia sering diundang sebagai juru bicara gerakan sastra Amerika Latin modern ini oleh media dan dijuluki Young Global Leader 2007 oleh World Economic Forum.
Es Wibowo (Indonesia)
Es Wibowo (Purwodadi, 1958) mulai menulis sejak awal 1980-an berupa esai, laporan budaya, cerpen, dan puisi. Alumnus Jurusan Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tidar Magelang. Pemenang 10 puisi terbaik Lomba Cipta Puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Studio Seni Sastra Kota Batu, 1996. Pemenang hadiah Purbacaraka Award, Denpasar 1996. Pernah menjabat koordinator forum dialog seni sastra Kedu, Cagar Seni Menoreh. Sekarang masih aktif berkegiatan di bidang seni, selain memimpin Padepokan Jalatundha Magelang.
F. Rahardi (Indonesia)
(Ambarawa, 1950) tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya, 1967. Mengasuh majalah Pertanian Trubus (1977-1997). Bukunya yang telah terbit, kumpulan puisi Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Tuyul (1990), Silsilah Garong (1990), Pidato Akhir Tahun Seorang Germo (1997); kumpulan cerpen Kentrung Itelile (1993); prosa lirik Migrasi Para Kampret (1993).
Feryal Ali-Gauhar (Pakistan)
(Lahore, 1959) belajar politik dan ekonomi pembangunan di McGill University, Montreal, dan mengasah kemampuannya sebagai sutradara TV di Eropa dan Amerika Serikat. Ia bekerja sebagai spesialis komunikasi pembangunan di Pakistan dan mengajar film di National College of Arts di Lahore. Ia sempat duduk sebagai Duta Persahabatan untuk Badan Kependudukan PBB dan mengajar tentang hak-hak wanita dan pembangunan di berbagai lembaga nasional. Ia terkenal sebagai bintang film, sutradara, dan penulis. Dua karyanya yang telah terbit, The Scent of Wet Earth in August dan No Space for Further Burials, dan kini menetap di New Delhi menyusun naskah film berdasarkan novel terbarunya tentang Afghanistan.
Ghassan Zaqtan (Palestina)
(dekat Bethlehem, 1954) menyelesaikan sekolah di bidang pendidikan di Yordania dan bekerja sebagai guru olah raga. Zaqtan bekerja bersama gerakan perlawanan Palestina dan menjadi redaktur Bayader, majalah sastra PLO. Ia redaktur sastra harian Al-Ayyam di Ramallah, dan redaktur majalah puisi triwulan Al-Shou’ara. Sejumlah antologi puisi karyanya telah diterbitkan, dan novel pertamanya terbit tahun 1995. Puisinya penuh penggambaran yang menakjubkan, mengangkat topik hidup dan kematian serta tema-tema hidup kontemporer. Ia ikut serta dalam berbagai festival puisi internasional. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Ia tinggal di Ramallah.
Gus tf (Indonesia)
Gus tf (Payakumbuh, Sumatera Barat, 1965) adalah kolektor dan pekerja puisi, anggota redaksi Jurnal Puisi. Sejumlah puisinya pernah memenangkan sayembara, di antaranya Sayembara Penulisan Puisi Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan RI 1990 dan meraih Sih Award dari Jurnal Puisi tahun 2002. Selain ke bahasa Inggris, sejumlah puisinya telah diterjemahkan ke bahasa Arab, Jerman, dan Portugis. Buku puisi yang pernah diterbitkan, Sangkar Daging (1997), Daging Akar (2005).
Hamsad Rangkuti (Indonesia)
(Medan, 1943) pernah menjabat pemimpin redaksi majalah sastra Horison dan pengurus Dewan Kesenian Jakarta. Kumpulan cerpennya Bibir dalam Pispot memenangi hadiah Khatulistiwa Literary Award 2003. Buku kumpulan cerpennya yang lain, Lukisan Perkawinan dan Cemara. Novel pertamanya, Ketika Lampu Berwarna Merah, mendapat penghargaan Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta (1981). Sekarang, mengisi hari tua dengan menulis dan memberi pendidikan penulisan kreatif di daerah-daerah.
Hao Yu-hsiang (Taiwan)
mendapat Ph.D. dari Jurusan Bahasa Cina, National Taiwan University dan kini bekerja sebagai Associate professor di National Dong Hwa University. Ia penerima hadiah Buku Terbaik 2005 di Taiwan, hadiah sastra dari pemerintah kota Taipei, Zhonekuo shibao [China Times], Zhongyang ribao [Central Daily News], dan New Fiction Writer Award dari Lianhe wenxue [Unitas] dsb. Karyanya meliputi kumpulan cerpen Xi [Mencuci],tiga novel: A Scene at the sea, A Love Story of Anny, Travelling Backward, script film Amour-Legende, tiga essai A Dream: Travel in China, Traveling in My Wardrobe, dan Eroticism of Contemporary Female Writings in Taiwan.
Hassan Daoud (Lebanon)
(Lebanon, 1950), belajar Sastra Arab di Beirut dan kini ketua redaksi suplemen budaya “Nafawez” di harian Al-Mustaqbal. Ia telah menerbitkan delapan novel dan dua kumpulan cerpen. Beberapa di antaranya telah diterjemahkan dan terbit dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Ia pernah mengikuti berbagai acara sastra dan budaya di Timur Tengah, Eropa, India, dan Asia. Hassan Daoud juga seorang penerjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Arab, Painter of Signs karya penulis India K. Narayan, misalnya.
Idanna Pucci (Italia)
Sejak meninggalkan kampung halamannya di Florensia, Italia, Idanna telah mengembara di berbagai peolosok dunia medalami budaya. Kini membagi waktu antara New York, Florensia dan Bali, Idanna telah menulis The Epic of Life: A Balinese Journey of the Soul (1992), The Trials of Maria Barbella (1998), Against All Odds: The Strange Destiny of a Balinese Prince (2005) dan Una Vita per l’Africa (A Life for Africa, 2006). Buku terbarunya diterbitkan seiring dengan pameran di Auditorium Roma tentang leluhurnya, penjelajah pecinta damai Pietro Savorgnan di Brazzà (1852-1905), pendiri Brazzaville di Kongo, yang dikenang di Afrika karena sifatnya yang manusiawi dan perjuangannya membela hak-hak rakyat Afrika
Iman Budhi Santosa (Indonesia)
(Magetan, Jawa Tengah, 1948) bersama Umbu Landu Paranggi dan kawan-kawan mendirikan Persada Studi Klub, sebuah komunitas penyair muda di Malioboro, Yogyakarta, pada 1968. Menulis sastra dan kebudayaan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, dan dimuat dalam pelbagai media cetak. Aktif menggerakkan kehidupan sastra Indonesia dan Jawa di Yogyakarta. Buku puisinya antara lain: Tiga Bayangan (1970), Dunia Semata Wayang (1996) and Matahari-Matahari Kecil (2004). Novel-novelnya: Barong Kertapati (1976), Dorodasih (2002), dan yang terbaru, Gadis Teater (2007). Sejak tahun 2004 ia menjadi anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta seksi bahasa dan sastra Jawa. Kini ia redaktur pada sebuah penerbit di Yogyakarta.
Intan Paramaditha (Indonesia)
Lahir di Bandung, 15 November 1979. Ia lulus dari Universitas Indonesia dan mendapat beasiswa Fulbright untuk belajar sastra di University of California, San Diego. Antologi cerita pendeknya, Sihir Perempuan (Black Magic Woman), menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award pada 2005. Selain menulis fiksi, ia juga menulis artikel tentang sinema, gender dan seksualitas, yang dipublikasikan di jurnal-jurnal nasional dan internasional.
Jerome Kugan (Malaysia)

(Kota Kinabalu, 1975) adalah seorang penulis, penyair dan musisi yang berdomisili di Kuala Lumpur. Sebagai seniman, Jerome tampil dengan gaya tak peduli setan dan acapkali menunjukkan antipati pada kemalasan dan kesemuan orang lain. Jerome mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Canberra, Australia, di mana ia menemukan kebebasan seksual dan puisi pertunjukan. Kini bekerja sebagai redaktur majalah KLue.
Joko Pinurbo (Indonesia)
(Sukabumi, 1962) memenuhi panggilan hobi mengarang puisi sejak akhir tahun 1970-an. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001. Ia juga ditetapkan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001 (bersama Ayu Utami). Buku kumpulan puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapatkan Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2002. Tahun 2005 ia menerima Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku kumpulan puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005), dan Kepada Cium (2007).
Joni Ariadinata (Indonesia)
(Majapahit, Majalengka, 1966), telah menerbitkan kumpulan cerpen Kali Mati (1999), Kastil Angin Menderu (2000), Air Kaldera (2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (2004). Tahun 1994 ia meraih Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas atas karyanya “Lampor”. Tahun 1997 meraih Penghargaan Cerpen Terbaik Nasional BSMI atas karyanya “Keluarga Mudrika”. Tahun 2000 ia mendirikan Jurnal Cerpen Indonesia dan Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia. Tahun 2004 ia menjadi redaktur di majalah sastra Horison. Joni menerima Anugerah Pena 2005 atas kumpulan cerpennya Malaikat Tak Datang Malam Hari.
Kangni Alem (Togo/Prancis)
Lahir di Togo, 1966, Kangni Alem Alemdjrodo menuntaskan PhD dalam Sastra Prancis-Afrika, Sastra Perbandingan, dan Sastra Prancis di Univeristas Bordeaux III, Prancis. Sebagai novelis, dramawan dan cerpenis, ia telah menerbitkan lebih dari sepuluh buku. Ia mengajar sastra dan teater di Universitas Lomé di Togo. Karya-karyanya menelusuri kenangan sejarah dan politik bangsa-bangsa Afrika melalui tema-tema perbudakan, pemerintahan diktator, dan persilangan budaya. Ia membagi waktunya tinggal di antara Lomé dan Bordeaux di Prancis. Kenali Kangni Alem melalui situs blognya.
Kimberley Blaeser ( AS)
(Billings, Montana, 1955) keturunan Anishnaabe dan Jerman. Ia dibesarkan di White Earth Reservation. Seorang wartawan, juru foto, penulis, dan dosen, ia mengajar di University of Wisconsin sejak 1990. Minatnya akan alam mendukung karya tulisnya. Karya Kim telah diterbitkan dalam tiga buku dan lebih dari enampuluh antologi dan jurnal. Buku terbarunya berjudul Absentee Indians and Other Poems.
Laksmi Pamuntjak (Indonesia)
(Jakarta, 1971) mulai menulis tentang politik, film, makanan, musik klasik dan sastra, antara lain di majalah Tempo. Salah satu pendiri toko buku Aksara di Jakarta ini menerbitkan Jakarta Good Food Guide (2001) serta menyunting dan menerjemahkan Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004). Kumpulan puisi pertamanya, Ellipsis (2005), dinyatakan sebagai salah satu Book of the Year harian Inggris The Herald. Sebuah perbincangan tentang kekerasan dan Iliad berjudul Perang, Langit, dan Dua Perempuan terbit tahun 2006, bersama kumpulan cerpen pertamanya, The Diary of RS.: Musings on Art (2005). The Anagram, kumpulan puisinya yang kedua, akan terbit pada Maret 2007.
Lan Po-chou (Taiwan)
(Taiwan, 1960) adalah seorang penulis fiksi, sejarahwan dan produser film dokumenter. Setelah lulus tahun 1984 dari jurusan Bahasa Prancis Fu Jen Catholic University, ia ikut tim penyelidik majalah Renjian awal tahun 1987 dan mulai riset, menulis, dan menelisik sejarah penduduk Taiwan. Ia telah memenangkan Jury Award for Fiction dan China Times Literary Award. Novelnya Song of the Veiled Carriage masuk nominasi untuk Hung Hsing-fu Award kategori Fiksi. Di antara karyanya yang telah diterbitkan adalah novella Travellers (1989), novel-novel The Vine Entwining the Tree (2002), dan The Birth of a Young Writer (2004). Sastra sejarahnya termasuk Sunken Bodies, Exile, and 288 (1991), Song of the Veiled Carriage (1991) dan In Search of the Obliterated History and People of Taiwan (1994).
Mamang Dai (India)
Seorang jurnalis dan mantan pegawai negeri yang menetap di Itanagar, Mamang Dai telah banyak menulis tentang budaya dan sejarah Arunachal Pradesh. Ia anggota Forum Penjulis Timur Laut (India) dan telah menerbitkan sejumlah cerita pendek dan puisi. Di antara buku-bukunya yang telah terbit adalah runachal Pradesh: The Hidden Land dan River Poems. Buku terbarunya, The Legends of Pensam, terbit bulan Juli 2006.
Mong-Lan (Vietnam)
(Vietnam, 1970) Penyair, penulis, pelukis, fotografer, dan penari. Ia meninggalkan negeri asalnya pada hari terakhir evakuasi penduduk Saigon pada 1975. Antologi puisinya antara lain: Song of the Cicadas, yang memperoleh Juniper Prize 2000 dan 2002 Great Lakes Colleges Association’s New Writers Awards for Poetry; serta Why is the Edge Always Windy?. Ia meraih gelar Master of Fine Arts dari University of Arizona, menerima Wallace E Stenger Fellowship untuk puisi selama dua tahun di Stanford University, dan mendapat beasiswa Fulbright di Vietnam. Puisinya dimuat dalam sejumlah antologi, seperti Best American Poetry dan Pushcart Prize Anthology, dan telah diterbitkan dalam beberapa jurnal sastra Amerika terkemuka.
Oka Rusmini (Indonesia)
lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Telah menerbitkan kumpulan puisi Monolog Pohon (1997), novel Tarian Bumi (2000), yang berkat novel tersebut ia terpilih sebagai “Penerima Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003″ oleh Pusat Bahasa Depdiknas. Noveletnya, “Sagra”, yang memenangi cerita bersambung terbaik Majalah Femina 1998, dibukukan dalam antologi cerpen Sagra (2001) bersama beberapa cerpen lainnya, di antaranya: “Putu Menolong Tuhan” yang terpilih sebagai cerpen terbaik Majalah Femina 1994 dan “Pemahat Abad”, yang terpilih sebagai cerpen terbaik 1990-2000 Majalah Sastra Horison. Pada 2002 menerima penghargaan SIH Award dari Jurnal Puisi. Pernah mengikuti writing program penulis ASEAN (1997); Festival Sastra Winternachten di Den Haag dan Amsterdam, Belanda, sekaligus hadir sebagai penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman (2003).
Remy Sylado (Indonesia)
(Ujungpandang, 1945) nama sebenarnya Yapi Panda Abdiel Tambayong. Ia menggubah bukan hanya puisi, novel, dan naskah drama, melainkan juga esai dan lirik lagu. Dalam karya fiksinya—telah mencapai sekitar 100 tulisan, beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing—sastrawan ini sering mengenalkan kembali kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai hingga menyebabkan karyanya unik. Dialah salah seorang tokoh penting di balik kelahiran Puisi Mbeling lewat majalah Aktuil yang terbit di Bandung pada era 1970-an. Beberapa di antara karyanya yang telah terbit, Sekuntum Melati Buat Rima (1968), Orexas (1980), Pingkan dan Matindas (1985), Di Sebuah Sudut Taman (1999), Ca Bau Kan (1999), Kerudung Merah Kirmizi (2002), Kembang Jepun (2003), Parijs van Java (2003). Ia pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulisiwa 2000 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Sam Wagan Watson (Australia)
(Brisbane, 1972) memenangkan David Unaipon Award 1999 untuk kumpulan puisinya Of Muse, Meandering and Midnight (bagian dari seri buku karya penulis Aborigin terbitan University of Queensland Press). Leluhurnya dari bangsa Irlandia, Jerman, Bundjalung dan Birri Gubba. Pernah duduk sebagai pengurus organisasi siswa di Morayfield State High School, ia pun pernah bekerja sebagai salesman, juru hubungan masyarakat, investigator pemalsuan, artis desain grafis, buruh, asisten hukum, teknisi perfilman, dan sebagai aktor. Smoke Encrypted Whispers (2004), disanjung sebagai koleksi puisi perjalanan, lagu pertalian hidup urban dan ikatan nenek moyang, yang menjadikannya ciri khas penyair ini.
Sean M Whelan (Australia)
![]()
telah menulis dan mementaskan spoken word, puisi dan cerpen selama hampir sepuluh tahun. Karya tulisannya telah banyak diterbitkan di manca negara. Pertunjukkan spoken word-nya telah disiarkan di radio RRR dan JJJ, Stasiun Radio Nasional Pemuda Australia. Pada tahun 2003 ia berpetualang ke New York atas dukungan dana dari Australia Council untuk tampil di peluncuran Short Fuse, sebuah antologi global Puisi Fusion. Kumpulan Cerpennya yang pertama yang berjudul Love is the First Hate diterbitkan tahun 2003 oleh penerbit Hit & Miss.
Sharanya Manivannan (India / Sri Lanka / Malaysia)
Lahir di India tahun 1985 dan dibesarkan di Sri Lanka dan Malaysia, Sharanya adalah seorang penulis, penari, pelukis, jurufoto, aktor dan jurnalis yang mendapat reputasi sebagai pembaca puisi handal melalui pertunjukan solonya, Ochre As The Earth di Kuala Lumpur. Karya-karyanya membahas keterbuangan hayalan dan sering digambarkan orang sebagai puisi-puisi yang brutal, sensual dan asli. “Di panggung, ia hadir memukau, penampilan dan suara pembacaannya sensual, liris, kaya bahasa dan sarat emosi… Ada gabungan antara ketulusan dan keperihan daalam karyanya yang sungguh memukau” komentar majalah Klue. Karya Sharanya berakar pada budaya Tamil, tapi juga dipengaruhi unsur-unsur lain seperti konsep duende dalam tari flamenko dan konsep iyari dari Huichol. Kenali Sharanya lebih lanjut melalui blognya.
Shin Joong Seun (Korea Selatan)
Lahir di Geochang, Propinsi Kyungsang Selatan (1955), Shin Joong Seun menerima Penghargaan Sastra Korea 2006 untuk novelnya Kebun Bunga Rahasia (Bimil-Ui Hwawon) setelah lebih dari 12 tahun menulis karya ini tahun 2003. Ia bekerja sebagai editor dan reporter beberapa majalah Korea dan telah menerbitkan sejumlah cerpen dan novel. Lima di anara cerpen dalam antologi Noona-nun Bom-eemyun Esa-rul Kanda (Kakak Pindah ke Rumahku Setiap Musim Semi) telah dipentaskan sebagai drama.
Sindhunata. SJ (Indonesia)
(Malang, 1952) adalah pemimpin redaksi majalah kebudayaan Basis. Pernah bekerja sebagai wartawan Kompas, menulis sejumlah buku tentang pelbagai masalah kebudayaan. Novelnya yang terkenal adalah Anak Bajang Menggiring Angin (1983). Buku puisinya yang terbaru, Air Kata-Kata (2003). Kini ia menetap di Yogyakarta.
Terence Ward (AS)
Terence Ward dilahirkan di Boulder, Colorado dan menghabiskan masa kecilnya di Arab Saudi dan Iran. Saat ini, dia bekerja sebagai konsultan lintas budaya yang memberikan nasihat bagi berbagai perusahaan dan pemerintah di dunia Islam dan di Barat. Berprofesi sebagai penulis, dia membagi waktunya antara Florence di Italia dan New York. Salah satu bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah The Hidden Face of Iran: Perjalanan menembus jantung hati Iran.
Triyanto Triwikromo (Indonesia)
(Salatiga, 1964) Kumpulan cerpennya yang telah dibukukan, Rezim Seks (1987)—kemudian dicetak ulang bersama penerbitan Ragaula (2002)—Sayap Anjing (2003), Children Sharpening the Knives (2003), dan Malam Sepasang Lampion (2004). Penyair terbaik Indonesia versi Gadis 1989 ini juga menerbitkan puisi-puisinya di beberapa buku. Ia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra. Pada 2005 ia mengikuti Wordstorm Nothern Territory Festival, di Darwin, Australia. Kini bekerja sebagai wartawan dan redaktur sastra harian Suara Merdeka, Semarang.
Ugoran Prasad (Indonesia)
(Tanjungkarang, 1978) lulus dari Jurusan Sosiologi Universitas Gajah Mada (2003). Dua karyanya yang sudah dibukukan Di Etalase (novel, 2003), dan Waktu Batu (teks untuk pertunjukan, 2004). Selain fiksi, dia juga kerap menulis tentang seni pertunjukan, terutama di jurnal Lebur Theater/Performance/Art/, tempatnya bekerja sebagai associate editor. Sehari-hari bekerja sebagai staf penelitian dan pengembangan Yayasan Teater Garasi.
Violetta Simatupang (Indonesia)
adalah lulusan sekolah pariwisata Switzerland dan Amerika. Ia memulai karirnya sebagai Public Relation Manager di hotel di Bali, sekaligus sebagai fasilitator berbagai inhouse training. Ia menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dipublikasikan di beberapa surat kabar dan jurnal kebudayaan. Anak-Anak Vampir (2002) adalah buku kumpulan puisinya yang pertama.