2005
The International Literary Biennale 2005 is a continiuation and extension of previous festivals held by Komunitas Utan Kayu: the International Poetry Festival (2001) and the International Literary Festival (2003). That the virtually same project goes under three different names in three consecutive years indicates a continuity and change, that every event is a never ending process of learning. It is pleasure that an international literary festival could be held for the third time in Indonesia.
Since this year we call the festival as âInternational Literary Biennaleâ for several reasons. Firstly, the festivals have taken place every two years. Secondly, there has been an extension of literary genres involved (the first festival featured only poetry, the second added prose genre, and this year there is yet another addition: a play based on poetic works). This festival not only showcases works and writers of modern literature butâin limited portionâalso exposes the almost extinct oral tradition. Thirdly, the previous two festivals have been a worthy experience for us in strengthening our conviction and improving our ability to hold the fourth festival in 2007.
Some extra literary factors have in recent years served as barrier. One of them is the issue of terrorism. In the previous festival, some of the participant had cancelled their participation after a bomb exploded and destroyed a hotel in Jakarta. Terrorism which is sometimes allegedly connected with the Islamic world also adds to the rather unwelcoming impression: Indonesia is not a safe place to go. Such a negative view has in fact strengthened our willingness to go on to realize this yearâs festival. And, in a way, those external factors remind us that literary is never an island alone.
We aware that Indonesia was not free from international conflict. Many problems in within and outside the country have involved us in world tensions: The territorial conflict concerning the small islands around the Indonesian-Malaysian border, the memories of Timor Leste conflict, the seeming love-hate relationship between Indonesia and Australia, and also the turmoils and tragedies in Aceh and Papua now effecting relations between Indonesian anda many countries.
Through this festival, we invited writersâguardians of the inner selfânot only from neighboring countries but from faraway regions as well, so that people from different nations and cultures may share and understand each other, get better ideas and maintain harmonious relationships despite the shambles of the political world without fear and bad prejudice.
The theme, âLiving Togetherâ, is chosen to bring forth the idea that the festival is a means for grasping the essential idea of literature: an effort to understand human being and his/her place in the scheme of things. Small and faint though it may be, I hope the voice of this festival will be part of great cultural chorus which has a power to affirm the fellowship among civilized societies, since we may discern in literature the ideal of brotherhood transcending ideologies, religions and nations. This is a beautiful but hard-to-realize idea.
Hard to realize, because so many people, including the educated people and those working in cultural field, and even they who come from the so-called highly civilized countries, often do not consider literature as top priority in the nourishing relations among peoples and nations. We have invited writers from some 20 countries through diplomatic representatives and cultural centres to take a part in this festival but most of them gave rather discouraging responses. Of course we appreciate their reasons.
We would like to extend our thanks to the Prince Claus Foundation, the Department of Culture and Tourism of Indonesia, Selasar Sunaryo Art Space, Komunitas Rumah Panggung, Australia-Indonesia Institute, and Stichting Winternachten. Without their support, this festival would have been impossible. Also, many thanks to the writers who have been willing to share their works, and to everyone who has provided help but whom we could mention one by one. May our good will and work be of some benefit and value.
Programs
Selasar Sunaryo Art space, Bandung 26-27 Agustus 2005
Taman Budaya Lampung, Lampung 29-30 Agustus 2005
Teater Utan Kayu (TUK), Jakarta 1-3 September 2005
A.S. Laksana |
Abe Barreto Soares |
Afrizal Malna |
Antjie Krog |
Arswendo Atmowiloto |
Asli Erdogan |
Azhari |
Budi Darma |
Dinar Rahayu |
Eka Kurniawan |
Ellen Louise Ombre |
Frank Martinus Arion |
Godi Suwarna |
Gunawan Maryanto |
H.U. Mardi Luhung |
Inggit Putria Marga |
Isbedy Stiawan ZS |
Iswadi Pratama |
Jan Cornall |
Jimmy Maruli Alfian |
Kurnia Effendi |
Landung Simatupang |
Lauren Williams |
Marhalim Zaini |
Martin Aleida |
Mona Sylviana |
N. Riantiarno |
Nur Wahida Idris |
Radhar Panca Dahana |
Ramsey Nasr |
Robert Olen Butler |
Saini K.M. |
Shinta Febriany |
Soni Farid Maulana |
Tan Lioe Ie |
A.S. Laksana
lahir di Semarang, 25 Desember 1968. Pernah kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Semarang dan Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Ia termasuk pendiri Gorong-Gorong Budaya dan tabloid DeTIK yang dibredel pada 1994. Di media itu ia menulis kolom di rubrik “Podium” yang kemudian diterbitkan sebagai Podium DeTIK (1995). Pendiri Yayasan Akubaca dan Jakarta SchoolâCreative Learning Center. Buku kumpulan cerpennya Bidadari yang Mengembara (2004).
Abe Barreto Soares
Barnabé [Abé ] Barreto Soares, lahir di Fohorem, Timor-Leste 1966. Completed his education at Menyelesaikan pendidikan di Sastra Inggris di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada. Berangkat ke Kanada untuk berpartisipasi dalam sebuah program pertukaran budaya pada bulan September 1991. Ketika hampir menyelesaikan program pertukaran tersebut, masaker Santa Cruz terjadi. Masaker itu merubah hidupnya secara total. Ia memutuskan tinggal di Kanada karena khawatir terhadap keselamatannya kalau kembali ke Indonesia. Buku kumpulan puisi pertamanya dalam bahasa Indonesia diterbitkan di Belanda pada 1995. Ia kembali lagi ke bumi Timor-Leste pada Juli, 2000. Kemudian ia bekerja pada misi PBB, UNTAET sebagai asisten informasi hingga 2002. Ia kemudian memulai kariernya sebagai seorang penerjemah dan saat ini masih bekerja pada misi PBB, UNMISET hingga misi PBB, UNOTIL.
Afrizal Malna
lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Beberapa buku puisinya yang diterbitkan, antara lain Abad Yang Berlari (1984), Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990); Arsitektur Hujan (1995), Kalung Dari Teman (1998), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003). Mengikuti Poetry International Rotterdam, 1996. November 1997 ia mengikuti pertemuan Sastra Asia Pasifik di Kuala Lumpur. Ia lantas bergabung dalam kegiatan Urban Poor Consortium. April 2002 ia mengikuti Puisi Internasional Indonesia di Makassar dan Bandung. Ia kini menetap di Solo.
Antjie Krog
lahir pada 23 Oktober 1952 di sebuah daerah pertanian di Freestate. Ia meraih Master bahasa Afrika di University of Pretoria dan Diploma Mengajar (cum laude) di UNISA. Ia aktif terlibat di Poetry School, Bloemfontein dan Poetry Laboratory di University of Stellenbosch di bawah pimpinan D.J. Opperman. Krog telah menerbitkan sembilan buku puisi berbahasa Afrika dan satu berbahasa Inggris; dua buku anak-anak berbahasa Afrika, satu novelet Afrika yang juga diterbitkan dalam bahasa Inggris dan satu buku dalam bahasa Inggris, Country of my Skull, oleh South African Truth and Reconciliation Commission (TRC). Berkat aktivitas dan karyanya, Krog telah mendapat banyak penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.
Arswendo Atmowiloto
lahir di Solo, 26 November 1948. Ratusan bukunya telah diterbitkan, sebagian memenangkan lomba, dan terpilih sebagai buku utama. Selain beberapa kali mendapat hadiah nasional, ia pernah diundang ke University of Iowa, Amerika Serikat, dalam rangka program penulisan kreatif (1979). Arswendo juga termasuk salah seorang pemenang ASEAN Award (1987).
Asli Erdogan
1967, belajar Ilmu Komputer dan Fisika di Universitas Bogazici. Meraih gelar MA di bidang Fisika. Pada 1991-1993 bekerja sebagai fisikawan partikel di CERN (Centre Europeen Recherche Nucleer). Kumpulan cerita pendek pertamanya, The Miraculous Mandarin diterbitkan pada 1966. Pada saat ia mengerjakan novel The Shell Man yang diterbitkan pada 1994 ia sedang sibuk mengejar gelar PhyD di bidang fisika di Rio de Janeiro. Meskipun demikian, ia mengabaikan fisika dan berkonsentrasi penuh untuk menulis. Pada saat kembali ke Turki, ia menyelesaikan novel The City of the Red Cloak yang terbit pada 1998. Esai mingguan yang ia tulis untuk sebuah koran harian pada 1998-2000 diterbitkan dalam satu kumpulan esai berjudul When does a journey end? Asli Erdogan mendapat hadiah Deutsche Welle untuk karyanya Wooden Birds (telah diterjemahkan ke 8 bahasa termasuk Inggris dan Jerman). The City of Red Cloak akan diterbitkan dalam bahasa Prancis oleh Actes Sud dan dalam bahasa Norwegia oleh Gyldendal.
Azhari
lahir di Lamjamee, Banda Aceh, 5 Oktober 1981. Kuliah di Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia, Universitas Syiah Kuala, Aceh. Menulis puisi dan prosa. Buku kumpulan ceritanya yang telah terbit Perempuan Pala (AKY, 2004). Menerima Free Word Award (2005) dari Poets of All Nations. Editor di jurnal Kebudayaan Titik Tolak, Banda Aceh dan mengurus Komunitas Tikar Pandan. Saat ini ia tinggal di dua daerah: Aceh dan Yogya.
Budi Darma
kelahiran Rembang, 25 April 1937, dianggap sebagai pelopor pembaru penulisan prosa modern di Indonesia. Meraih Ph.D. di Universitas Indiana Bloomington, Amerika Serikat. Bekerja sebagai dosen Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, sebelum menjadi rektor pada 1984 di sana. Menulis fiksi dan non-fiksi, novelnya Olenka memenangkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta (1983). Kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington memenangkan hadiah sastra ASEAN (1984). Pada 2003 ia menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan, Presiden Republik Indonesia.
Dinar Rahayu
lahir di Bandung, 9 Oktober 1971. Menyelesaikan S-1 di Jurusan Kimia Fakultas MIPA, ITB (1997). Karyanya yang sudah diterbitkan Ode Untuk Leopold Von Sacher-Masoch (Pustaka Jaya 2002), sebuah novel tentang transseksualitas dan sadomasokisme. Kini ia menjadi pengajar.
Eka Kurniawan
lahir di Tasikmalaya, 28 November 1975. Menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 1999. Selain menulis, ia melakoni pekerjaan sebagai jurnalis, desainer grafis, dan sesekali membuat komik. Karyanya antara lain Cantik itu Luka, Lelaki Harimau, Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya, serta Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya. Bekerja sama dengan dua orang komikus, kini ia tengah mempersiapkan novel grafisnya yang pertama.
Ellen Louise Ombre
lahir di Paramaribo, Suriname, 1948. Pindah ke Belanda pada 1961 untuk belajar dan kemudian bekerja, debutnya dalam sastra ditandai dengan terbitnya Maalstroom, satu kumpulan cerita pendek, pada 1992. Catatan perjalanan otobiografinya, Wie Goed Bedoelt, menggabungkan kisah-kisah dan obsevasi tentang Benin dan Dutch Development Aid. Dalam buku terbarunya, Valse Verlangens, Ellen Ombre menulis tentang kehidupan orang-orang Suriname, Belanda, dan Afrika dalam mencari nafkah, juga dalam pencarian cinta dan kebahagiaan. Ombre juga menulis untuk De Gids, Het Oordeel, Surplus and Callaloo (The Johns Hopkins University Press). Sekarang ia sedang menulis sebuah novel pendek.
Frank Martinus Arion
(nama samaran Frank Efraim Martinus), kelahiran Curaçao 17 Desember 1936, pada 1955 pindah ke Belanda untuk belajar dan kemudian bekerja di Institute for Dutch Studies. Ia kembali ke Curaçao pada 1981 dan menjadi direktur Language Bureau. Novelnya Dubbelspel (Double Game, 1973), yang mengisahkan hubungan kolonial antara Belanda dan Antilles, meraih penghargaan Lucy B. and C.W. van der Hoogt Prize pada 1974. Novel tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Jerman, Denmark, dan Inggris. Afscheid van de koningin (Goodbye to the Queen, 1975) dan Nobele wilden (Noble Savages, 1979) adalah novel Arion lainnya. Ia kembali ke dunia sastra dengan novel terbarunya De laatste vrijheid.
Godi Suwarna
lahir di Tasikmalaya, 1956, dan bergabung dengan Studiklub Teater Bandung. Menulis puisi dan prosa dalam bahasa Sunda sejak tahun 1976. Bukunya yang sudah terbit, kumpulan puisi Jagat Alit, Surat-Surat Kaliwat, Blues Kere Lauk, Sajak Dongeng Si Ujang, serta kumpulan cerpen Murang-Maring, Serat Sarwasatwa. Pada 1997 ia menyutradarai puisi Konglomerat & Kere Lauk yang dipentaskan di Universitas Wollongong, Australia.
Gunawan Maryanto
lahir di Yogyakarta, 10 April 1976. Penulis dan sutradara dari Teater Garasi, Laboratorium Penciptaan Teater dan bergiat di komunitas penulis BlockNotInstitute Jogjakarta. Bukunya yang telah terbit, Waktu Batu (sastra lakon, ditulis bersama Andri Nur Latif dan Ugoran Prasad) dan kumpulan cerpen Bon Suwung.
H.U. Mardi Luhung
lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Lulusan sastra Indonesia Universitas Jember. Judul antologi puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku dan Wanita yang Kencing di Semak. Pada 2002, bersama beberapa penyair lain dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura, ia terpilih untuk mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dalam bidang puisi.
Inggit Putria Marga
kelahiran Tanjungkarang, 25 Agustus 1981, menyelesaikan kuliahnya di Program Studi Hortikultura Universitas Lampung. Puisinya termuat dalam beberapa kumpulan puisi dan media cetak. Saat ini tercatat sebagai pengurus Komite Sastra di Dewan Kesenian Lampung.
Isbedy Stiawan ZS
lahir di Tanjungkarang, Lampung, 5 Juni 1958. Kumpulan puisinya antara lain Kembali Ziarah, Daun Daun Tadarus, Roman Siti dan Aku Selalu Mengabarkan, Aku Tandai Tahi Lalatmu, Menampar Angin. Pernah diundang ke Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johorbaru Malaysia dan Dialog Utara VII di Thailand pada 1999. Kini ia mengabdikan diri di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandarlampung dan menjadi ketua program Dewan Kesenian Lampung periode 2005-2008.
Iswadi Pratama
lahir di Tanjung Karang, 1971. Menulis puisi, esai, prosa, dan naskah drama sejak 1990. Ia juga sutradara dan aktor di Teater Satu. Naskah dramanya yang bertajuk Nostalgia Sebuah Kota meraih penghargaan naskah terbaik GKJ Awards, 2003. Lakon tersebut juga mendapat Hibah SEbi dari Yayasan Kelola, tahun 2004, dan mendapat penghargaan untuk tampil pada Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) di Nusa Dua, Bali, 6-10 Juni 2005.
Jan Cornall
adalah penulis, performer, guru, dan fasilitator yang tinggal di Sydney, Australia. Selain menulis naskah drama dan skenario film Jan juga mengelola Write Here, Write Now, Writing Workshops and Writing Retreats. Setelah bertahun-tahun berguru pada Dzogchen Master, Chogyal Namkhai Norbu (Tibetan Buddhism), Jan membawa pengaruh filosofi Buddhisme dan teknik meditasi pada workshop-workshopnya, dengan menggabungkan penulisan dan meditasi populer yang memberikan hasil mengejutkan. Jan juga membimbing para penulis, seniman kreatif, dan siapa saja yang tertarik menggunakan proses kreatif demi memunculkan seluruh potensi mereka di segala bidang kehidupan.
Jimmy Maruli Alfian
kelahiran Teluk Betung, 3 Maret 1980, adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Lampung. Selain menulis puisi, ia juga aktor di teater Komunitas Berkat Yakin. Membacakan karya pada Malam Puisi Indonesia (2003) di Teater Utan Kayu, Jakarta; Ubud Writerâs and Readerâs Festival (2004) Bali; Festival Penyair Lampung 3 Generasi (2002); Festival Penyair Ujung Pulau (2003); Festival Penyair Dua Arus (Jung Foundation, 2004); Pesta Para Sufi (2005). Kini ia bergiat di Komunitas Berkat Yakin.
Kurnia Effendi
lahir di Tegal, 20 Oktober 1960, lulus dari pendidikan Seni Rupa dan Desain ITB, 1991. Menulis cerpen dan puisi di berbagai media dan sebagian memenangkan sayembara penulisan. Karyanya yang telah terbit, antologi puisi Kartunama Putih (1997), antologi cerpen Senapan Cinta (2004) dan Bercinta di Bawah Bulan (2004). Pernah diundang mengikuti Mimbar Penyair Abad 21, Dewan Kesenian Jakarta, di Taman Ismail Marzuki, November 1996 dan Panggung Cerpen Indonesia Mutakhir, Teater Utan Kayu, Juli 2003. Kini bekerja di perusahaan otomotif di Jakarta.
Landung Simatupang
kelahiran Yogyakarta, 25 November 1951, menyelesaikan kuliahnya di Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada. Telah menghasilkan puluhan karya terjemahan. Pernah bergabung dengan Black Swan Theatre Company, Perth, Australia Barat, di bawah sutradara Andrew Ross. Tampil di Pesta Seni Internasional, ia menjadi aktor dan penerjemah bahasa Jawa ke Inggris untuk sekuen-sekuen wayang kulit. Buku puisinya yang telah terbit Sambil Jalan⊠(1999). Bekerja sebagai penerjemah lepas, pekerja teater, pembaca puisi, cerpen dan novelet.
Lauren Williams
adalah penyair dan penyanyi. Ia senang mengelola acara pembacaan puisi dan membacakan puisi pada berbagai kesempatan. Buku puisi pertamanya, Driven To Talk To Strangers, mendapat hadiah kedua pada Anne Elder award 1991. Pada 1995 ia penyair Australia pertama yang diundang ke Festival Internacional de PoesĂa en MedellĂn, Colombia. Pada 1996 ia meraih B.A. di Jurusan Bahasa Spanyol, La Trobe University, dan mendapat beasiswa ke Spanyol pada 1998. Puisinya banyak dimuat di berbagai antologi serta disiarkan melalui televisi dan media radio nasional. Sejak 2000 ia menjadi penggerak La Mama Poetica readings. Pada 2002 ia mendapat New Work Grant dari Literature Board, Australia Council. Buku puisinya yang lain: User Pays (bersama Kerry Scuffins), High & Low, The Sad Anthropologist, Bad Love Poems, Invisible Tattoos, dan Eloquent & other poems.
Marhalim Zaini
lahir di Teluk Pambang, Bengkalis, Riau, 15 Januari 1976. Merampungkan studi S-1 di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Menulis di berbagai media, sebagian karyanya memenangkan penghargaan. Bukunya yang telah terbit, kumpulan puisi Segantang Bintang Sepasang Bulan (2003) dan Langgam Negeri Puisi (2004), kumpulan naskah drama Di Bawah Payung Tragedi (2003), dan kumpulan esai Tubuh Teater (2004). Selain aktif di di berbagai kelompok teater, media dan kelompok diskusi, kini ia bekerja di Akademi Kesenian Melayu Riau, Pekanbaru sebagai ketua jurusan dan staf pengajar.
Martin Aleida
lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943. Pendidikan yang pernah ditempuh: Akademi Sastra âMultatuliâ Jakarta (1963), Studi Bahasa dan Linguistik, Georgetown University, Washington D.C. (1982). Pernah bekerja sebagai staf redaksi Majalah Kebudayaan Zaman Baru merangkap wartawan Harian Rakyat (1963-1965), wartawan Tempo (1971-1984), wartawan Nippon Hoso Kyokai, perwakilan Jakarta (1985), Information Officer, United Nations Information Centre, Jakarta (1986-2001) dan sekarang sebagai penulis asongan (freelance). Kumpulan cerita pendeknya: Malam Kelabu, Ilyana dan Aku, Perempuan depan Kaca, Leontin Dewangga, dan Jamangilak Tak Pernah Menangis.
Mona Sylviana
lahir di Bandung, 16 Mei 1972. Pendidikan terakhir di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung. Bukunya yang telah terbit Improvisasi X, antologi bersama Hikmat Gumelar dan Moh Syafari Firdaus. Sekarang bergiat Institut Nalar Jatinangor.
N. Riantiarno
lahir di Cirebon, 6 Juni 1949, adalah salah seorang teaterawan penting di Indonesia. Sempat kuliah di STF Driyarkara dan Akademi Teater Nasional Indonesia. Pada 1977 ia mendirikan Teater Koma. Skenario filmnya Jakarta-Jakarta meraih Piala Citra pada FFI 1978. Empat kali berturut-turut ia menyabet hadiah dari sayembara penulisan naskah drama DKJ (1972-1975). Pada 1978 ia diundang mengikuti International Writing Program di University of Iowa. Sering berkeliling dunia untuk bertemu dengan pentolan teater di berbagai negara, mempresentasikan makalah, atau mementaskan lakonnya. Opera Kecoa, naskah dramanya yang paling populer, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dipentaskan di berbagai negara.
Nur Wahida Idris
lahir di Kampung Ketugtug, Loloan Timur, Bali, 28 April 1976. Karyanya dimuat di berbagai media dan beberapa di antaranya mendapat penghargaan. Sekarang ia tengah studi di ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa, Jurusan Kriya, Minat Utama Tekstil/Batik. Aktif di AKAR Indonesia dan Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.
Radhar Panca Dahana
Radhar Panca Dahana lahir di Jakarta 26 Maret 1965. Setelah melanjutkan studinya di Ecole des Hautes en Sciences Sociales, Paris, ia mengajar di Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia. Menulis beberapa buku esai, puisi, cerita pendek dan drama. Tiga buku terakhirnya: kumpulan puisi Lalu Batu (2003), esai sosiologi Jejak Postmodernisme (2004) dan kumpulan cerita pendek Cerita-Cerita dari Negeri Asap (2005).
Ramsey Nasr
1974, penyair eksentrik berdarah Palestina-Belanda yang juga seorang aktor, dan ini terlihat pada karya-karyanya. Buku puisi pertamanya, 27 gedichten & Geen lied (27 poems & no song, 2000), mendapat sambutan hangat dari para kritikus dan masuk nominasi C. Buddinghâ Prize untuk debut puisi Belanda terbaik. Puisi Nasr tampaknya senang memakai tradisi-tradisi lama, yang mengingatkan kita pada estetika artistik The Tachtigers (kelompok penyair Belanda era 1880 yang tergolong dewa puisi bunyi). Ini berlanjut pada buku keduanya Onhandig bloesemend (Awkwardly blossoming). Frustrasi dan nafsu yang bergelora merupakan tema puisi panjangnya âwinter sonate (zonder piano en altviool)â (Winter sonata [without piano and viola]) tentang komposer Shostakovich. Suatu subyek yang berkarakter, walaupun Nasr tampaknya tidak begitu senang mengikuti dikte-dikte yang berkaitan dengan keseniannya.
Robert Olen Butler
(1945). Lahir di Granite City, Illinois. Butler menempuh studi tentang teater di Northwestern University (B.S., 1967) dilanjutkan di bidang penulisan drama di University of Iowa (M.A., 1969). Ia seorang sersan di Army Military Intelligence yang dikirim ke Vietnam (1969-1972). Berawal dari situ ia mahir berbahasa Vietnam dan menjadi pembicara ahli mengenai kebudayaan Vietnam. Ia telah menerbitkan beberapa buku, diantaranya: novel The Alleys of Eden (1981), Sun Dogs (1982), dan kumpulan cerita pendek, A Good Scent from a Strange Mountain (1992), yang memenangkan Pulitzer Prize pada 1993.
Saini K.M.
lahir di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Ia menamatkan kuliahnya di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung. Buku puisinya yang sudah terbit: Nyanyian Tanah Air (1969), Rumah Cermin (1979), Sepuluh Orang Utusan (1989). Ia juga menulis lakon dewasa dan anak-anak, serta esai sastra. Tahun 1960-1984 ia menjadi pengasuh puisi di harian Pikiran Rakyat, 1988-1995 menjadi direktur ASTI Bandung, 1995-1999 di Direktorat Kesenian Dirjen Kebudayaan Depdikbud. Pada 1994 menjadi anggota Konsorsium Seni. Dan pada 1999 menjadi anggota Komisi Disiplin Ilmu Seni.
Shinta Febriany
lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, 5 Februari 1979. Jebolan Fakultas Sastra, Jurusan Bahasa Jerman Universitas Hasanuddin, Makassar, sejak 1996 ia bergabung dalam komunitas Sanggar Merah Putih Makassar sebagai penulis, aktris, dan sutradara. Pernah memenangkan penghargaan sebagai aktris dan sutradara terbaik. Kini bekerja sebagai direktur artistik pada sanggar Merah Putih Makassar.
Soni Farid Maulana
lahir di Tasikmalaya, 19 Februari 1962. Kumpulan puisinya antara lain Variasi Parijs van Java (2004), Selepas Kata (2004) dan Tepi Waktu Tepi Salju (2004). Pernah mengikuti South Asean Writers Conference di Queezon City, Filipina (1990) dan Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (1999). Kini bekerja di harian Pikiran Rakyat sebagai redaktur seni dan budaya lembaran khusus âKhazanahâ.
Tan Lioe Ie
kelahiran Denpasar, pernah kuliah di Teknik Arsitektur Universitas Jakarta sebelum lulus S-1 dari Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Kumpulan puisinya Kita Bersaudara diterjemahkan ke bahasa Inggris We Are All One. Buku puisi terbarunya Malam Cahaya Lampion. Pernah diundang mengikuti Tasmanian Readersâ & Writersâ Festival serta menjadi Writer in Residence di Hobart, Tasmania. Senang membuat musikalisasi puisi. Pernah aktif di Sanggar Minum Kopi (SMK ) â Bali dan menjadi editor tamu Coast Lines serta editor jurnal CAK dan Paradox.