Oka Rusmini (Indonesia)

04-oka-rusmini-replace.JPGlahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Telah menerbitkan kumpulan puisi Monolog Pohon (1997), novel Tarian Bumi (2000), yang berkat novel tersebut ia terpilih sebagai “Penerima Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003″ oleh Pusat Bahasa Depdiknas. Noveletnya, “Sagra”, yang memenangi cerita bersambung terbaik Majalah Femina 1998, dibukukan dalam antologi cerpen Sagra (2001) bersama beberapa cerpen lainnya, di antaranya: “Putu Menolong Tuhan” yang terpilih sebagai cerpen terbaik Majalah Femina 1994 dan “Pemahat Abad”, yang terpilih sebagai cerpen terbaik 1990-2000 Majalah Sastra Horison. Pada 2002 menerima penghargaan SIH Award dari Jurnal Puisi. Pernah mengikuti writing program penulis ASEAN (1997); Festival Sastra Winternachten di Den Haag dan Amsterdam, Belanda, sekaligus hadir sebagai penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman (2003).


Es Wibowo (Indonesia)

04-es-wibowo-rev.jpgEs Wibowo (Purwodadi, 1958) mulai menulis sejak awal 1980-an berupa esai, laporan budaya, cerpen, dan puisi. Alumnus Jurusan Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tidar Magelang. Pemenang 10 puisi terbaik Lomba Cipta Puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Studio Seni Sastra Kota Batu, 1996. Pemenang hadiah Purbacaraka Award, Denpasar 1996. Pernah menjabat koordinator forum dialog seni sastra Kedu, Cagar Seni Menoreh. Sekarang masih aktif berkegiatan di bidang seni, selain memimpin Padepokan Jalatundha Magelang.


Avi Basuki (Indonesia)

04-avi-basuki-rev.jpgAvi Basuki bekerja sebagai model ketika pertama kali mulai menulis. Atas permintaan Seno Gumira, ia menulis tentang wisata untuk Jakarta Jakarta, majalah yang telah tiada itu. Namun cintanya pada sastra tetap berkembang, ia aktif menulis dari Milan. Buku pertamanya, Tango, terbit bersama dua film singkat tentang subyek yang sama. Ia kini mengerjakan buku berikutnya, masih tentang tari. Selain menulis ia juga seorang jurnalis wisata, fesyen dan desain untuk berbagai publikasi Indonesia, sekaligus bekerja sebagai seniman digital untuk Televisionet – sebuah Web TV di Milan dan telah bekerja di berbagai film layar lebar seperti Malena Vajont, Extreem Ops, dsb. Yoga, wisata dan tari, terutama Tango, tetaplah cinta sejatinya.


Intan Paramaditha (Indonesia)

04-intan-paramaditha-web.jpgLahir di Bandung, 15 November 1979. Ia lulus dari Universitas Indonesia dan mendapat beasiswa Fulbright untuk belajar sastra di University of California, San Diego. Antologi cerita pendeknya, Sihir Perempuan (Black Magic Woman), menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award pada 2005. Selain menulis fiksi, ia juga menulis artikel tentang sinema, gender dan seksualitas, yang dipublikasikan di jurnal-jurnal nasional dan internasional.


Dewi Lestari (Indonesia)

04-dewi-lestari-web.jpgDewi Lestari Simangunsong (Dee) lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Menempuh pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan. Lebih dulu dikenal sebagai penyanyi dalam trio vokal RSD (Rida, Sita, Dewi). Namanya termasuk dalam jajaran penulis perempuan setelah terbit bagian pertama dari trilogi novelnya “Supernova Satu”: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001), yang dilanjutkan dengan seri berikutnya “Akar” (2002) dan “Petir”(2004).


Darmanto Jatman (Indonesia)

04-darmanto-jatman-web.jpg

(Jakarta, 1942) menyelesaikan kuliah di Yogyakarta. Dididik secara Kristen di tengah keluarga priayi Jawa, ia kemudian tertarik pada teologi, filsafat, dan psikologi. Sebagai penyair, ia banyak menggunakan metafor kejawen dalam puisi-puisinya. Buku puisinya yang sudah terbit, Isteri dan Anak. Ia mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang. Di kota inilah ia kini tinggal bersama keluarganya.


Rama Thaharani

rama_thaharani.jpgRama Thaharani (Yogyakarta, 26 Agustus) menyelesaikan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saat ini ia menjadi staf pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Karirnya di bidang seni pertunjukan diawali dengan menjadi manajer National Youth Orchestra of Indonesia, dan setelah itu ia kerap menjadi produser maupun manajer humas pertunjukan musik klasik. Saat ini ia menangani produksi pertunjukan-pertunjukan Jakarta Chamber Orchestra dan Batavia Madrigal Singers, selain juga menjabat sebagai manajer Asiaccatura, suatu ensembel vokal dengan anggota berasal dari Indonesia, Jepang, Thailand dan Singapura. Dalam waktu dekat, ia akan menggelar The Story of Babar, suatu kolaborasi resital piano, pembacaan dongeng serta seni grafis berdasarkan karya komponis Abad 20 asal Perancis, Francis Poulenc.

 


Kabar/01

Komunitas Utan Kayu kembali akan menggelar Utan Kayu International Literary Biennale, pada 23-30 Agustus 2007. Festival sastra internasional dua tahunan ini akan digelar di Jakarta dan Magelang. Di Jakarta bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Teater Utan Kayu (TUK), sedangkan di Magelang bertempat di Galeri Langgeng dan pelataran Candi Borobudur.

Festival kali ini memilih tema Force Majeure, sebagai renungan atas terjadinya beragam malapetaka yang secara beruntun melanda banyak wilayah di Indonesia, juga simpati terhadap para korban. Kata-kata barangkali tak berdaya di hadapan kedahsyatan bencana, namun sebuah ritual untuk mengenang dan penghormatan atas ketabahan hati serta kekuatan akal budi manusia dalam membangun kembali kebudayaan tentu—dan semoga—tak sepenuhnya sia-sia. Karena itulah tema Force Majoure dipilih dan festival ini diselenggarakan.

Pembacaan dan penampilan karya, puisi maupun prosa, akan tetap menjadi pesona utama di festival ini. Selebihnya adalah dialog sastra antara sastrawan asing dengan sastawan Indonesia, juga antara para peserta festival dengan mahasiswa di kampus-kampus, dan masyarakat di sejumlah komunitas.  Demi pengenalan dan penghayatan kekayaan budaya Indonesia, para peserta pun akan diajak berziarah ke tempat-tempat bersejarah.

Lebih seru dibanding ketiga festival sebelumnya, Biennale Sastra ke-4 tahun ini akan dimeriahkan oleh puluhan penulis terkemuka Indonesia dan sastrawan kenamaan dari sekitar 20 negara. Para penulis  Indonesia: Abdul Hadi W.M., Abidah El Khalieqy, Acep Zamzam Noor, Agus Noor, Amarzan Ismail Hamid, Avi Basuki, Ayu Utami, Beni Setia, Darmanto Jatman, Dewi Lestari, Dorothea Rosa Herliany, Es Wibowo, F. Rahardi, Gus tf, Hamsad Rangkuti, Iman Budhi Santosa, Intan Paramaditha, Joko Pinurbo, Joni Ariadinata, Laksmi Pamuntjak, Oka Rusmini, Triyanto Triwikromo, Ugoran Prasad, dan Violetta Simatupang.

Sedangkan dari mancanegara (untuk sementara): Ahmed Alaidy (Mesir), Alvin Pang (Singapura), Chris Keulemans (Belanda), Cyril Wong (Singapura), Ed Verhoeff (Belanda), Edmundo Paz Soldán (Bolivia/USA), Feryal Ali-Gauhar (Pakistan), Ghassan Zaqtan (Palestina), Hassan Daoud (Lebanon), Izaline Calister (Curaçao), Jerome Kugan (Malaysia), Lan Po-chou (Taiwan), Mong-Lan (Vietnam / USA),  Ozen Yula (Turki), Pernell Saturnino (Curaçao), Romain Moretone (Australia), Sam Wagan Watson (Australia), Umberto Piersanti (Italia).

Daftar nama para peserta, baik dari dalam maupun luar negeri, akan bertambah panjang dengan bergabungnya sejumlah penulis beken yang masih menunggu konfirmasi.

 


Sean M Whelan (Australia)

Sean Whelan
telah menulis dan mementaskan spoken word, puisi dan cerpen selama hampir sepuluh tahun. Karya tulisannya telah banyak diterbitkan di manca negara. Pertunjukkan spoken word-nya telah disiarkan di radio RRR dan JJJ, Stasiun Radio Nasional Pemuda Australia. Pada tahun 2003 ia berpetualang ke New York atas dukungan dana dari Australia Council untuk tampil di peluncuran Short Fuse, sebuah antologi global Puisi Fusion. Kumpulan Cerpennya yang pertama yang berjudul Love is the First Hate diterbitkan  tahun 2003 oleh penerbit Hit & Miss.


Violetta Simatupang (Indonesia)

04-violetta-simatupang-web.jpgadalah lulusan sekolah pariwisata Switzerland dan Amerika. Ia memulai karirnya sebagai Public Relation Manager di hotel di Bali, sekaligus sebagai fasilitator berbagai inhouse training. Ia menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dipublikasikan di beberapa surat kabar dan jurnal kebudayaan. Anak-Anak Vampir (2002) adalah buku kumpulan puisinya yang pertama.


Amarzan Ismail Hamid (Indonesia)

04-amarzan-ismail-hamid-web.jpg(Sumatera Utara, 1941) menulis puisi sejak 1956, disiarkan di berbagai surat kabar dan majalah di Medan dan Jakarta. Ia juga menulis cerita pendek, novelet, naskah sandiwara, esai, dan kritik. Ia bekerja sebagai wartawan. Tahun 1968-1979 oleh rezim Soeharto ia dijebloskan ke Nusakambangan dan Pulau Buru. Kumpulan sajaknya, Memilih Jalan (1965), tak sempat beredar karena diberangus penguasa militer pada masa itu.


Jerome Kugan (Malaysia)

04-jerome-kugan.jpg

(Kota Kinabalu, 1975) adalah seorang penulis, penyair dan musisi yang berdomisili di Kuala Lumpur. Sebagai seniman, Jerome tampil dengan gaya tak peduli setan dan acapkali menunjukkan antipati pada kemalasan dan kesemuan orang lain. Jerome mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Canberra, Australia, di mana ia menemukan kebebasan seksual dan puisi pertunjukan. Kini bekerja sebagai redaktur majalah KLue.