Selasa, 28 Agustus 2007
Welcoming Party
Galeri Langgeng
Welcoming Party
Galeri Langgeng
Closing Party
Teater Utan Kayu
10:00 - 12:00
Diskusi dan Pembacaan Karya para penulis asing di kampus
20:00 - 22:00
Pembacaan Karya di Teater Utan Kayu
10:00 - 12:00
Diskusi dan Pembacaan Karya para penulis asing di kampus
20:00 - 22:00
Pembacaan Karya

Lahir di Jakarta, 20 Oktober. Waryo menyelesaikan studi di Administrasi Bisnis, Universitas Jakarta. Bergabung dengan Komunitas Utan Kayu sejak 1995.

Lahir di Bandung, 18 Maret. Indah menyelesaikan studi di Universitas Kristen Indonesia Jurusan Ekonomi dan Manajemen. Sebelum bergabung dengan Komunitas Utan Kayu pada 1998, ia bekerja di rumah produksi dan agensi periklanan.

Lahir di Palembang, 15 Agustus. Moela menyelesaikan studi di Diploma Teknik Sipil, ATENAS, Bandung. Sebelum bergabung dengan Komunitas Utan Kayu pada 1999, ia bekerja di PT Pupuk Sriwijaya (PUSRI).
Born in Palembang, on August 15. He completed his studies at Diploma Civil Engineering at ATENAS, Bandung. Before joining Komunitas Utan Kayu in 1999, he worked at PT PUSRI.

lahir di Makassar, 14 Mei 1959. Pendidikan terakhirnya S-2 Pasca Sarjana Fak. Psikologi UI kekhususan Psikologi Industri dan Organisasi. Pernah bekerja sebagai staf redaksi Majalah Femina (1984), kemudian bergabung dengan kelompok Tempo Inti Media Tbk. Pada 2002-2004 menjabat Wakil Direktur Usaha PT. Temprint – percetakan merangkap Direktur Eksekutif PT. Grafiti Medika Pers – penerbit majalah kedokteran. Sejak 2006 bergabung dengan Yayasan Utan Kayu.

Lahir di Jayapura, Papua, 7 Agustus. Asty lulus dari fakultas hukum Universitas Surabaya. Ia bekerja di perusahaan event organizing dan perusahaan minyak sebelum bergabung dengan Komunitas Utan Kayu sejak 1996.

Lahir di Magelang, 23 Juni. Alumni Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Menerjemahkan Miramar, novel karya Naguib Mahfouz (2001) dan artikel Harry Aveling di Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (2003). Bekerja sebagai editor di penerbit KataKita sejak 2005. Menulis beberapa cerpen anak yang diterbitkan dengan judul Melangkah dengan Bismillah (2006).

Kelahiran Bali, 1979, Kadek Krishna Adidharma menuntaskan studi Tehnik Lingkungan di Auckland University tahun 2002 dan bekerja selama tiga tahun sebagai konsultan tehnik di Selandia Baru. Dibesarkan dengan tiga bahasa, Kadek adalah penerjemah alami yang dikenal spontan dalam alih bahasa sastra di Ubud Writers and Readers Festival. Terjemahannya telah diterbitkan berdampingan dengan bahasa asli di edisi dwi-bahasa Menepis Segala Rintangan karya Idanna Pucci, Seni Belajar dari Pengalaman karya Sarita Newson, dan TERRA, antologi karya dari WordStorm, Festival Sastra Northern Territory, Australia. Kadek menulis kolom mingguan di The Jakarta Post.

Asikin belajar seni mematung di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung di mana ia meriset “Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia.” Ia pernah bekerja sebagai wartawan khusus liputan Jawa Barat untuk majalah Tempo. Artikel-artikelnya telah dimuat di berbagai jurnal termasuk “Art and Asia Pacific”, sebuah jurnal seni rupa terbitan Sydney, Australia, serta The Jakarta Post dan Majalah Tempo. Pada Tahun 1997, Asikin dapat kesempatan untuk meneliti di beberapa museum, antara lain: The Pushkin Museum, Moscow; The Hermitage, St Petersburg, Russia, serta beberapa museum di Paris. Tahun 1998, ia mengikuti lokakarya kurator di Tokyo, Fukuoka, Hiroshima dan Kyoto disponsori oleh The Japan Foundation. Ia juga telah mengedit 2 buah buku, Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman. Asikin juga mengkurasi proyek “TRANSIT” New Media di Townsville, Brisbane, Darwin, Australia.
Mohamad Guntur Romli, lahir di Situbondo Jawa Timur. Belajar filsafat Islam dari Universitas al-Azhar Cairo Mesir hingga tahun 2004. Semasa di Cairo pernah menjadi koresponden untuk Majalah (alm) Panji Masyarakat dan Majalah Berita Mingguan GATRA. Ia menulis agama, politik Timur Tengah dan sastra. Selain menjadi kurator diskusi di Teater Utan Kayu, ia juga editor di Jaringan Islam Liberal (JIL).

Tony Prabowo adalah salah satu komposer Indonesia yang paling dikenal dan seorang penting dalam dunia musik modern Indonesia. Ia mulai belajar musik antara lain pada komposer Slamet Abdul Sjukur di Institut Kesenian Jakarta dan mendirikan the New Jakarta Ensemble pada 1996.
Tony telah bekerja sama dengan penari/koreografer, pelukis, penyair dan sutradara teater maupun film. Di panggung internasional, musik Tony Prabowo dipentaskan di Amerika, Eropa, Australia dan Korea Selatan. Di Amerika Serikat, hasil kerjasama Tony telah dipentaskan di New York International Festival of the Arts, Jacob’s Pillow Dance Festival, Lincoln Center, dan Tanglewood Festival (dengan Tan Dun). Karya dia sendiri telah dipentaskan oleh New Juilliard Ensemble, Seattle Creative Orchestra, ISI Yogyakarta Orchestra, Mannes Orchestra, Orchestra of the University of Newcastle-upon-Tyne, Deutsche Kammerphilharmonie Bremen, dan lain-lain.
Komposisinya yang mutakhir berpusat pada musik vokal. Karya operanya yang pertama, The King’s Witch (1999) dipentaskan di Alice Tully Hall, New York. Meditation on Lu Xun II (2000) adalah karya koor pertamanya, telah dibawakan oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan. Tony juga pernah mendapat grant penting dari Meet the Composer, Ford Foundation dan Asian Cultural Council; yang terakhir ini untuk tinggal di New York dari Oktober 1997 hingga April 1998.

Pernah kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Esai-esai dan kritiknya seputar bahasa dan sastra dimuat di sejumlah media cetak. Ia pernah bekerja di majalah perbukuan Optimis (1984-1985), majalah Berita Buku (1987-1989), dan penerbit Pustaka Utama Grafiti (1989-1997). Ia penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia (2006). Sekarang ia sekretaris redaksi dan redaktur Jurnal Kebudayaan Kalam.

Dia menulis ulasan sastra, seni rupa, seni panggung, dan kadang-kadang film di sejumlah koran, majalah, buletin, dan jurnal. Dalam 2 tahun terakhir, ia juga menyiarkan karya fiksi pada jurnal-jurnal Kalam dan Prosa. Ia pernah menjadi Ketua Redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam (1994-2003), dan sekarang Penjaga Lembar Seni Koran Tempo Edisi Minggu (sejak Juli 2002), dan anggota Dewan Redaksi Yayasan Lontar (sejak awal 2002) yang menerbitkan terjemahan Inggris karya-karya sastra Indonesia. Sejak 1996 ia ikut mengurus Teater Utan Kayu dan Galeri Lontar. Pendidikan resminya tak berhubungan dengan seni: ia lulus dari Jurusan Geologi Fakultas Teknologi Mineral ITB (1987). Semasa kuliah ia memimpin Grup Apresiasi Sastra di kampusnya (1983-1985). Sampai akhir 1991 ia bekerja di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi. Kemudian, ia meninggalkan sepenuhnya bidang geologi, dan “bekerja” di lapangan seni. Beberapa kali ia melakukan “kajian kesenian” di sejumlah lembaga riset luar negeri. Misalnya, ia pernah tinggal di University of Wisconsin, Madison sepanjang 1998-1999 sebagai peneliti/penulis tamu dengan sponsor Fulbright. Buku esainya “Senjakala Kebudayaan” (1996).

Selepas jadi pemimpin redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan nyaris jadi apa yang pernah ia tulis dalam esainya: transit lounger. Seorang yang berkeliling dari satu negara ke negara lain: megajar, berceramah, menulis. Seorang yang berpindah dari satu tempat penantian ke tempat penantian berikutnya, tapi akhirnya hanya punya sebuah Indonesia.
Dalam perjalanan itu lahir sejumlah karya. Bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel ia membuat libretto untuk opera Kali (1996-2003) dan dengan Tony, The King’s Witch (1997-2000). Tapi ia juga ikut dalam seni pertunjukan dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan juga menulis teks untuk pertunjukan wayang kulit, Wisanggeni (1995), Alap-alapan Surtikanti (2002) dan drama tari Panji Sepuh.
Sajak-sajaknya dari berbagai antologi yang terbit sebelum 2001, dibukukan secara lengkap dalam Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Diseleksi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).
Kumpulan esainya: Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra dan Kita (1980), Kesusasteraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Eksotopi (2002). Catatan Pinggir, esai pendeknya setiap minggu untuk majalah Tempo (kini terbit jilid ke-6 dan ke-7). Jilid 1-5 diseleksi dalam Kata Waktu (2001), dan terbit dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Jeniffer Lindsay, dalam Sidelines (1994) dan Conversations with Difference (2002).
Setelah pembredelan Tempo (1994) ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), untuk memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secarasembunyi-sembunyi, antara lain di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H itu bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman dan cendekiawan yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu. Dari ikatan ini lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tidak tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”.

Lahir di Duri, Riau, 9 Mei. Nike menyelesaikan studinya di Akademi Sekretaris Tarakanita. Ia bekerja sebagai sekretaris eksekutif di Majalah Berita Mingguan Tempo, dan bekerja di Komunitas Utan Kayu sejak 2003.

Pernah mengikuti AFS Intercultural Learning Program selama satu tahun di Selandia Baru (1988-89). Pada tahun 1992, dengan beberapa teman dia mendirikan Gorong-Gorong Budaya, sebuah kelompok diskusi dan penerbitan buku kebudayaan. Bersama Margaret dan Leon Agusta ia menerjemahkan dan menyunting kumpulan puisi The Poets’ Chant (1995) yang diterbitkan dalam rangka Istiqlal International Poetry Reading ’95. Ia menyunting kumpulan cerita pendek Para Pembohong (1996), menerjemahkan karya-karya Jorge Luis Borges dengan judul Labirin Impian (1999). Sekarang ia ketua redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam dan redaktur tamu rubrik puisi di Harian Kompas.

Sitok Srengenge lahir 22 Agustus 1965 di Desa Dorolegi, Jawa Tengah. Saat ini Sitok bekerja sebagai kurator sastra dan teater, juga editor jurnal kebudayaan Kalam, di Komunitas Utan Kayu, Jakarta.
    Sitok telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya antologi puisi Persetubuhan Liar (1992, 1994), Kelenjar Bekisar Jantan (2000), Anak Jadah (2000), Nonsens (2000), dan On Nothing, Selected Poems (2005). Karya prosanya terbit dalam antologi Para Pembohong (1996), novel Menggarami Burung Terbang (2004), dan trilogi Kutil yang dimuat bersambung di Suara Merdeka (2005).
    Sitok telah mengikuti pelbagai festival sastra Internasional dan diundang membacakan karya di berbagai negara. Tahun 2001 Sitok mengikuti International Writing Program di University of Iowa, USA. Tahun 2002, atas sponsor Asialink, ia menjadi Artist in Residence di Australia. Pada November-Desember 2005, sebagai Visiting Writer di Hong Kong Baptist University, Hong Kong, Sitok memberikan workshop penulisan kreatif bagi para peserta International Creative Writing Workshop di sana.
Tahun 2000 ia terpilih sebagai seorang dari 20 exepcional people di Asia yang dinobatkan Asiaweek sebagai leader for the millenium in sociaty and culture. Tahun 2003 ia mendapatkan Sih Award. Kumpulan puisinya, Nonsens, dan novelnya, Menggarami Burung Terbang, masuk nominasi 5 besar dan 10 besar Khatulistiwa Award. Kumpulan puisi Kelenjar Bekisar Jantan mendapat penghargaan sastra Departemen Pendidikan Nasional 2006.
    Selain menulis, Sitok sekarang mengelola penerbitan KataKita.












![]()


(Salatiga, 1964) Kumpulan cerpennya yang telah dibukukan, Rezim Seks (1987)—kemudian dicetak ulang bersama penerbitan Ragaula (2002)—Sayap Anjing (2003), Children Sharpening the Knives (2003), dan Malam Sepasang Lampion (2004). Penyair terbaik Indonesia versi Gadis 1989 ini juga menerbitkan puisi-puisinya di beberapa buku. Ia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra. Pada 2005 ia mengikuti Wordstorm Nothern Territory Festival, di Darwin, Australia. Kini bekerja sebagai wartawan dan redaktur sastra harian Suara Merdeka, Semarang.
(Sukabumi, 1962) memenuhi panggilan hobi mengarang puisi sejak akhir tahun 1970-an. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001. Ia juga ditetapkan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001 (bersama Ayu Utami). Buku kumpulan puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapatkan Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2002. Tahun 2005 ia menerima Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku kumpulan puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005), dan Kepada Cium (2007).
(Magetan, Jawa Tengah, 1948) bersama Umbu Landu Paranggi dan kawan-kawan mendirikan Persada Studi Klub, sebuah komunitas penyair muda di Malioboro, Yogyakarta, pada 1968. Menulis sastra dan kebudayaan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, dan dimuat dalam pelbagai media cetak. Aktif menggerakkan kehidupan sastra Indonesia dan Jawa di Yogyakarta. Buku puisinya antara lain: Tiga Bayangan (1970), Dunia Semata Wayang (1996) and Matahari-Matahari Kecil (2004). Novel-novelnya: Barong Kertapati (1976), Dorodasih (2002), dan yang terbaru, Gadis Teater (2007). Sejak tahun 2004 ia menjadi anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta seksi bahasa dan sastra Jawa. Kini ia redaktur pada sebuah penerbit di Yogyakarta.
Gus tf (Payakumbuh, Sumatera Barat, 1965) adalah kolektor dan pekerja puisi, anggota redaksi Jurnal Puisi. Sejumlah puisinya pernah memenangkan sayembara, di antaranya Sayembara Penulisan Puisi Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan RI 1990 dan meraih Sih Award dari Jurnal Puisi tahun 2002. Selain ke bahasa Inggris, sejumlah puisinya telah diterjemahkan ke bahasa Arab, Jerman, dan Portugis. Buku puisi yang pernah diterbitkan, Sangkar Daging (1997), Daging Akar (2005).
(Ambarawa, 1950) tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya, 1967. Mengasuh majalah Pertanian Trubus (1977-1997). Bukunya yang telah terbit, kumpulan puisi Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Tuyul (1990), Silsilah Garong (1990), Pidato Akhir Tahun Seorang Germo (1997); kumpulan cerpen Kentrung Itelile (1993); prosa lirik Migrasi Para Kampret (1993).
(Magelang, Jawa Tengah, 1963) pendiri Rumah Akar Institution, sebuah lembaga nirlaba, di Magelang, dan penerbit Indonesia Tera di Yogyakarta. Beberapa kali sudah ia menerima penghargaan, seperti dari Menteri Negara Lingkungan Hidup RI (1994), PWI Jawa Tengah (1995), Dewan Kesenian Jakarta (2000), Pusat Bahasa (2003), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, dan Khatulistiwa Literary Award (2006). Bukunya yang sudah terbit di antaranya Kill The Radio (bilingual, 2007 [2001]), Life Sentences (sajak pilihan, bilingual, 2004), dan Santa Rosa (bilingual, 2006 [2005]).
(Singapura, 1977) adalah penyanyi countertenor dan penyair, penulis lima antologi puisi dan sebuah novel sajak Excess Baggage and Claim (2007), dan pemenang Young Artist Award kategori Sastra (2005) dari National Arts Council of Singapore serta Singapore Literature Prize (2006). Puisi-puisinya telah diadaptasikan ke dalam tari, drama, film dan musik. Kolaborasi ini telah ditampilkan di berbagai negara, termasuk di Pesta Kesenian Bali 2005 dan Festival Internasional Wanita dalam Teater Kontemporer Magdalena (AS, 2005). Puisi-puisinya telah tampil dalam berbagai jurnal seperti Atlanta Review, Fulcrum 3, Poetry Inernational, Dimsum dan Poetry New Zealand.
Chris Keulemans (1960) mencuat pada tahun 1992 dengan novela Overal om me heen is ruimte (Di sekitarku ada ruang), yang disusul Een korte wandeling in de heuvels (Jalan pendek di perbukitan). Ia juga menulis Van de zomer naar de werkelijkheid (Dari musim panas ke kenyataan). Dalam tiga buku ini ia mempertimbangkan berbagai minat pribadi seperti sepak bola, mengelola took buku di Eropa Timur. Karya terbarunya, sebuah proyek multi-media yang berjudul De Amerikaan die ik nooit geweest ben (Orang American yang tak Pernah Kujelma) (2004), terdiri dari novel, dokumentasi foto pada dvd, sebuah dokementer radio dan situs internet. Sejak 1990 sampai 1998 Keulemans bekerja di pusat politik dan budaya De Balie, tiga tahun terakhir sebagai direktur. Ia rutin menerbitkan karyanya di surat kabar De Volkskrant, Vrij Nederland dan di majalah sastra De Gids.
(Bogor, 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis. Besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ia pernah menjadi wartawan di ma jalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Ia dikenal sebagai novelis sejak novel pertamanya, Saman, memenangi Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998, dan mendapat sambutan dari sejumlah kritikus serta dianggap memberi warna baru dalam sastra Indonesia. Berkat Saman pula, ia mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag dengan misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Awal 2002, ia meluncurkan novel keduanya, Larung.
(Tegal, 1968) telah menulis sejumlah kumpulan cerpen: Memorabilia (1999), Bapak Presiden yang Terhormat (2000), Selingkuh itu Indah (2001), dan Rendezvous – Kisah Cinta yang Tak Setia (2004). Tahun 1992, cerpennya yang berjudul “Musuh” memperoleh penghargaan sastra Festival Kesenian Yogyakarta. Tiga cerpennya yang lain, “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru”, “Tak Ada Mawar di Jalan Raya” dipilih Dewan Kesenian Jakarta masuk Anugerah Cerpen Indonesia pada 1999. Prosa “Pemburu” dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik majalah sastra Horison periode 1990-2000. Tahun 1998 mengikuti Writing Program Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera).

(Sumenep, Madura, 1946) memperoleh pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan dan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Pada 1973-74 mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, AS. Buku puisinya antara lain Laut Belum Pasang (1971), Potret Panjang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1975), Tergantung Pada Angin (1982), Anak Laut Anak Angin (1982), Pembawa Matahari (2000), Madura, Luang Prabhang: Seratus Puisi (2006), dan Dari Hitu ke Barus (2007). Ia mendapat penghargaan Anugerah Seni Pemerintah RI (1979), SEA Write Award dari Pemerintah Thailand (1985), dan Hadiah Mastera (Majlis Sastra Asia Tenggara) di Kuala Lumpur (2003). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan dan menulis sejumlah buku tentang sastra sufi dan kebudayaan Islam.
Belajar sastra Rusia dan kajian wilayah Amerika di Universitas Indonesia, Jakarta. Ia mengajar di Fakultas Sastra UI Jurusan Rusia dan menulis kajian kebudayaan. Bukunya antara lain: Manusia, Mitos dan Mitologi (1998), kumpulan puisi Pintu, Etalase, Batavia Centrum (1998), Konflik Nilai dalam Sejarah Perkembangan Sastra Rusia. Naskah kumpulan puisinya yang memenangi hadiah puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta, 2000 diterbitkan dengan judul Dari Batavia Sampai Jakarta 1619-1999.
Lahir 1967 di Pati, Jawa Tengah. Merampungkan pendidikan sarjana di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Semasa kuliah pernah bergabung dalam Studi Apresiasi Sastra (SAS) dan Teater Eska, Yogyakarta. Kumpulan puisi tunggalnya antara lain: Konser Sunyi (1995) dan Selembar Daun Jati (1996).
Lahir pada 1958, penyair ini adalah seorang arkeolog, pengajar Sejarah Seni Rupa. Ia memperdalam ilmu arkeologi di Italia dan Jerman. Saat ini ia sedang melakukan kerja sama dengan sebuah badan daerah untuk pelestarian di Salerno, menjadi koordinator seminar sastra di Italia dan di luar negeri, menulis untuk berbagai majalah puisi dan arkeologi, redaktur majalah estetika dan penulisan Lo Stallo delle Cose. Ia telah menerbitkan beberapa kumpulan puisi.
Lahir di Telukbetung, Riau, 19 September 1963. Tahun 1987 lulus dari Universitas Riau dan setahun kemudian menjadi wartawan Kompas. Kumpulan sajaknya yang pertama, Tersebab Haku Melayu (1995).
Lahir di Desa Lasmborek, Suriname, 1937. Pernah bekerja sebagai pegawai di Kementrian Dalam Negeri dan Rumah Sakit Akademis di Suriname. Musik memegang peran penting dalam hidupnya; ia menguasai beberapa instrument, mengajar musik, dan bertahun-tahun memimpin orkes dansa. Ayahnya lahir di Pekalongan, Jawa tengah, dan termasuk dalam rombongan sebelum gelombang terakhir imigran Jawa ke Suriname; sedangkan orang tua ibunya sudah lebih dulu datang ke Suriname. Surianto mempublikasikan beberapa karangan di majalah yang terbit di Indonesia, Mekar Sari. Sajak-sajaknya tidak hanya memakai bahasa Suriname-Jawa, tetapi “campuran bahasa Suriname-Jawa dan bahasa Jawa yang dipakai di Jawa Tengah dan Jawa Timur”. Pada 1986 terbit kumpulan sajaknya Aruming Melathi/De Geur van Melathi, sebuah kumpulan sajak dwi bahasa pertama di Suriname. Pada 1990; terbit kumpulan berikutnya, Testing bun adi/ Ededele dauwdruppels.
Penyair yang dokter hewan ini lahir di Sanur, Bali, 31 Juli 1968. Mulai belajar menulis puisi sejak usia 14 tahun. Sajak-sajaknya dimuat di berbagai media dan sejumlah antologi.
Lahir di Malangbong, Garut, Jawa Barat, 26 Desember 1971. Lulus dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Bandung kemudian melanjutkan studinya di Program Pasca Sarjana IKIP Bandung. Buku antologi puisinya tunggalnya, Negeri Sihir (1999).
Lahir di Tetouan, Maroko, 1974, dan dibesarkan di Lelystad. Tinggal dan bekerja di Amsterdam, di sana pula dia belajar filsafat. Ia menulis kritik puisi di majalah mingguan Vrij Nederland. Pada 1994 terbit kumpulan sajaknya yang pertama, Mijn Vormen (Bentukku). Pada 1998 terbit Mijn Gedichten (Sajak-Sajakku). Dua kumpulan sajak itu diterima dengan pujian. Stitou menulis puisi lucu dan semau-maunya sendiri, dan ketika di panggung dibawakan penuh semangat. Dia berhasil mencapai nama baik sebagai performer di beberapa festival sastra, seperti Poetry International di Rotterdam, 1994.
Lahir di Retreat, Afrika Selatan pada 1957 dan dibesarkan di provinsi Tanjung. Untuk beberapa lama dia bekerja sebagai desainer grafis, namun kini dikenal luas di Kaapstad sebagai penyanyi dan penyair jalanan. Dalam melantunkan sajak-sajaknya yang ditulis dalam bahasa Goema (sebuah bahasa daerah dari jalanan Kaapstad), dia memetik gitar sebagai musik pengiring. Pada 1998 terbit kumpulan sajaknya My Straat en anne praat-poems (Jalananku dan sajak-sajak percakapan lain). Sols sering tampil di berbagai perhelatan sastra, misalnya Stellenbos Woordfees, Maret 2001.
Lahir di pedalaman Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Tahun 1987 meninggalkan bangku IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, kemudian mengajar di almamaternya sembari membantu majalah kebudayaan Basis. Sejak 1999 menjadi editor Biro Naskah Gramedia. Buku puisinya yang pertama adalah Celana (1999), naskah kumpulan puisi Di bawah Kibaran Sarung (2002) memenangkan Sayembara Kumpulan Puisi Terbaik 1998-2000 Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki. Sebelumnya, pada 1997, sebuah esainya terpilih sebagai salah satu pemenang Sayembara Penulisan Esai Majalah Horison.
Lahir di Wina pada 1956. Di sana ia mempelajari teater dan ilmu komunikasi yang menjuruskannya ke dalam eksplorasi puisi bunyi, puisi kor, puisi visual dan puisi pertunjukan. Pada 1991 ia mendirikan dan sekarang menjabat sebagai direktur sekolah puisi Wina. Ia pernah mengajar di Hanoi, Medellin, Boulder, Roma, Frankfurt, dan Wina. Ia pernah belajar berkolaborasi dengan Allen Ginsberg, Nick Cave dan Henri Chopin serta mengadakan tur pembacaan dan pertunjukan di Eropa, Amerika Latin dan Vietnam. Ia menulis dan menyunting sejumlah buku, cd, video dan situs internet. Di antara karya-karyanya adalah puisi panjang “the golden flood” (1987), yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, cd “30 Rufe” (1993), video “30 Nanzen” dan proyek-www “ippoi” dan “icons’ (http://www.sfd.at)
(Curacao, 1950) adalah penyair dan deklamator. Ia belajar filsafat dan teologi di Colombia dan Belanda. Bacilio aktif dalam kegiatan teater jalanan, terutama di Grupo Teatro Foro di mana dia menjadi pimpinan artistik pada 1970an hingga 1980an. Bacilio memproduksi dan mempresentasikan program-program budaya untuk televisi dan mempelajari kembali deklamasi sastra lisan serta puisi tulis yang berirama (semacam pantun). Bacilio menulis tentang masa lampau kolonial, orang-orang Indian, perbudakan serta sikap yang dominan di Belanda. Namun banyak juga warna erotik dan intim dalam karyanya. Sajak-sajaknya telah diterbitkan dalam beberapa buku dan majalah. Tahun 2000 terbit kumpulan sajaknya, Kueru Marka.
Warga Malaysia keturunan China-India. Ia menyelesaikan studi pascasarjana Seni Asia Tenggara di Sekolah Kajian Afrika dan Ketimuran (SOAS), London, Inggris. Seorang penyair dan dalang wayang Melayu. Kini bekerja sebagai penulis lepas.
Lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963. Selain mencipta puisi, ia juga menulis cerpen, esai, catatan pementasan dan kritik seni. Beberapa bukunya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), Perempuan yang Menunggu (2000), Kill The Radio: Sebuah Radio Kumatikan (2000) dan Santa Rosa (2005). Mengikuti berbagai festival dan pertemuan sastrawan internasional seperti Pertemuan sastrawan ASEAN di Filipina (1990), Festival Puisi Indonesia-Belanda di Den Haag, dan pernah menjadi penulis tamu di Australia. Setelah lulus dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta, beberapa tahun ia bekerja sebagai wartawan dan penulis lepas. Pada 1998 mendirikan penerbit Indonesiatera di Magelang.
Mulai dikenal sebagai penyair sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, 1982. Tahun itu juga terbit kumpulan puisinya yang pertama, Bulan Tertusuk Lalang, yang menjadi inspirasi dasar bagi pembuatan film Bulan Tertusuk Ilalang karya Garin Nugroho. Tahun 1987 kumpulan puisinya, Nenek Moyangku Airmata mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama. Tahun 1990, buku tersebut bersama Celurit Emas terpilih sebagai buku terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Tahun 1994 terbit kumpulan puisinya, Berlayar di Pamor Badik. Zawawi tinggal di Batang-Batang, kampung halamannya di Madura.
Penyair, kritikus, wakil pemimpin redaksi Bombay Times. Ia telah menghasilkan dua kumpulan puisi, Gemini II (1994) dan Posthumous Poems (1999). Puisi-puisinya pernah dimuat sejumlah jurnal dan antologi di India dan luar negeri.
Lahir di Madiun 30 September 1971. Menulis puisi, esai, terjemahan dan ulasan seni rupa. Puisinya masuk dalam sejumlah buku dan jurnal di Indonesia dan Malaysia. Banyak mengindonesiakan puisi asing, di antaranya karya Octavio Paz, Derek Walcott, Johanes Bobrowski, Michael Ondaatje. Terjemahannya atas novel Wife karya Bharati Mukherjee dimuat bersambung di Republika. Kumpulan puisi tunggalnya, Mahasukka (2000).
Lahir di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat beasiswa dari pemerintah Italia untuk belajar di Universita’ Italiana per Stanieri, Perugia, Italia (1991-1993). Puisi-puisinya sudah terbit antara lain dalam Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbria (1999), Dongeng dari Negeri Sembako (2001), Jalan Menuju Rumahmu (2004), dan sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (1993) yang menjadi nominator Hadiah Rancage 1994. Tahun 2000 dan 2005 Acep mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Pada 2005 ia juga mendapat The SEA Write Awards 2005 dari Kerajaan Thailand. Tahun 2006 mendapat Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Jawa Barat. Selain menulis puisi, ia juga aktif melukis dan berpameran baik di dalam maupun di luar negeri.
Teater Utan Kayu (TUK), Jakarta 26-28 April 2001
Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta 2001 30 April & 1 Mei 2001
Program Jakarta
Tanggal: 26 April 2001 19.00-23.00
Tempat: Teater Utan Kayu
Pembacaan: Surianto (Suriname), Nenden Lilis Aisyah (Indonesia), Eddin Khoo (Malaysia), Taufik Ikram Jamil (Indonesia), Mustafa Stitou (Belanda)
Pentas Musik: Luluk Purwanto (Biola), Rene Helsdingen (Piano)
Tanggal: 27 April 2001 19.00-23.00
Tempat: Teater Utan Kayu
Pembacaan: Zeffry Al Katiri (Indonesia), Teobaldo Fortunato (Italia), CP Surendran (India), Arief B. Prasetyo (Indonesia), Gibi Bacilio (Curacao)
Pentas Musik: Iwan Hasan & Grup (Gitar)
Tanggal: 28 April 2001 19.00-23.00
Tempat: Teater Utan Kayu
Pembacaan: Acep Zamzam Noor (Indonesia), Loit Sols (Afrika Selatan), Joko Pinurbo (Indonesia), Ide Hintze (Austria), Ben Takara (Jepang)
Pentas Musik: Maya Hasan (Harpa), Binu D. Sukaman (Piano)
Tanggal: 27 April 2001 19.00-23.00
Tempat: Aksara Book Store, Jl. Kemang Raya 8 B.
Diskusi: Minoritas dan Politik Identitas Masyarakat Plural
Pembicara: Edin Khoo Mustafa Stitou
Tanggal: 26 April – 3 Mei 2001 13.00-21.00
Tempat: Pelataran Teater Utan Kayu
Kegiatan: Pameran dan Bazar Buku Sastra
Program Yogyakarta
Tanggal: 30 April & 1 Mei 2001, 19.00-23.00
Tempat: Auditorium Lembaga Indonesia Prancis (LIP), Jl. Sagan No. 3
Pembacaan: Dorothea Rosa Herliany (Indonesia), Gibi Bacilio (Curacao), Loit Sols (Afrika Selatan), Mustafa Stitou (Belanda), Sindu Putra (Indonesia), Surianto (Suriname), Ulfatin Ch. (Indonesia), D. Zawawi Imron (Indonesia)

Lahir di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Teguh Ranusastra Asmara dan Iman Budhi Santosa, mendirikan Persada Studi Klub, 5 Maret 1969, di Yogyakarta yang menjadi pendorong penulis muda Yogya antara 1970-1980-an. Karya-karyanya antara lain: Melodia, Maramba Ruba, dan Sarang. Buku kumpulan puisinya berjudul: Sabana. Bekerja sebagai redaktur Bali Post.
Cerpenis, menulis kumpulan cerpen Sayap Anjing (Penerbit Kompas, 2003), Children Sharpening the Knives (Masscom Media, 2003), dan Rezim Seks dan Ragaula (Aini, 2002). Mata Sunyi Perempuan Takroni terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas 2002. Kini bekerja sebagai wartawan dan redaktur sastra harian Suara Merdeka, Semarang.
Lahir di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975; kini guru besar. Pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Kalam, Basis, Horison, Tenggara (Malaysia). Karya-karyanya antara lain: DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah Sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000). Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra dunia seperti: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988).
Belajar di Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan. Anggota Sanggar Minum Kopi, Denpasar dan pernah belajar puisi di bawah asuhan Umbu Landu Paranggi. Tahun 2004 memperoleh penghargaan puisi terbaik Sih Award dari Jurnal Puisi dan salah satu cerpennya memenangkan Anugerah Sastra Horison. Kini, ia mengelola Komunitas Rumah Lebah di Yogyakarta dan AKAR Indonesia yang menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia.
Lahir di Tabanan, Bali, 11 April 1944. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta. Anggota Bengkel Teater (1960) dan Teater Ketjil (1970) ini mendirikan dan memimpin Teater Mandiri di Jakarta. Pernah tinggal dalam masyarakat komunal Ittoen, Jepang (1973). Mengikuti beberapa festival dan program-program sastra dan teater internasional seperti: International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City (1974-1975) dan Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1975). Pernah menjadi redaktur Tempo (1971-1979), redaktur pelaksana Zaman (1979-1985), anggota Dewan Kesenian Jakarta dan dosen tamu di Universitas Wisconsin, A.S. (1985-1986). Telah menulis banyak buku, baik novel, kumpulan cerpen maupun naskah drama.
Lahir di Jakarta 11 Juli 1967. Bukunya yang telah terbit: Tarian Bumi (2000) dan Sagra (2001). Menyusul Kenanga (novel) dan Patiwangi (kumpulan puisi). Awal 2003 membacakan karyanya pada Festival Puisi Winternachten di Belanda. Menetap di Denpasar, Bali.
Atau Nur Zain Hae lahir di Kembangan, Jakarta Barat, 12 April 1970. Anak Betawi ini lulus dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta 1994. Menulis puisi, cerpen, dan tinjauan sastra. Sejumlah puisinya sempat menjadi juara dan nominator lomba cipta puisi di beberapa kota di Indonesia. Buku kumpulan cerpen pertamanya, Rumah Kawin (2004).
Lahir di Ternate, 1971, kumpulan cerpen perdana Nukila Amal meraih penghargan Buku Terbaik tahun 2005 oleh majalah Tempo. Novelnya, Cala Ibi (2003) masuk nominasi untuk Khatulistiwa Literary Award. Kedua karya tersebut menandai fenomena baru dalam sastra Indonesia yang beralih dari tradisi tutur dan pola-pola narasi konvensional. Kini duduk di Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.
Sastrawan dan jurnalis kelahiran Pulau Bangka 1970. Cerita pendek pertamanya meraih penghargaan dari Kompas pada 1989. Buku kumpulan cerita pendeknya, Kuda Terbang Mario Pinto meraih Khatulistiwa Literary Award 2004. Selain menulis fiksi, ia juga menulis feature untuk berbagai media. Pernah bekerja sebagai redaktur di majalah kajian media dan jurnalisme, Pantau dan penulis naskah drama radio. Kini ia menetap di Banda Aceh dan memimpin kantor berita Pantau Foundation.
Lahir di Soweto pada masa puncak apartheid tahun 1974, K. Sello Duiker bunuh diri di Johannesburg January 2005. Ia memperoleh penghargaan Statebonds pada tahun 2001 untuk karya perdana Afrika terbaik untuk bukunya Thirteen Cents (2000), sebuah novella tentang sisi gelap Capetown. Putus asa, ragu dan insting untuk bertahan hidup merupakan tema-tema yang diungkit dengan latar prostitusi, ganster, dan kelaparan yang diangkat oleh saat-saat sarat harap dan bahagia. Novel keduanya The Quiet Violence of Dreams (2003) adalah tentang seorang siswa yang mengalami krisis identitas. Dalam karya Duiker, kegilaan individu tak pernah bias dipisahkan dari negri tak mungkin tempat latar kisah-kisanya.
mengajar kepenulisan kreatif di bidang puisi dan fiksi, teater, seni, fotografi dan sinema di Australia dan manca negara. ilsafat timur, politik Australia dan international, lingkungan dan pendidikan merupakan bidang-bidang yang ditekuninya. Kumpulan puisinya antara lain Dreaming of Robert de Niro (2003) dan You Know What I Mean (1996) yang masuk nominasi The Age Book of the Year Award. Novelnya Malabata (1991), masuk nominasi Australian Human Rights Award.
lahir di Ujungpandang, 3 September 1942. Tahun 1978 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, AS. Bukunya yang telah terbit adalah Jendela (1980), Spring of Fire, Spring of Tears (1988), Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-daun (2004).
Lahir 2 Juli 1960 di Ulm, Eva Christina Zeller adalah penggubah lagu, penulis dan jurnalis. Belajar filsafat, bahasa jerman, seni teater dan retorik di Berlin dan Tubingen, pada tahun 1988 ia mengajar di Universitas Otago di Dunedin, Selandia Baru. Kini menetap di Tubingen.
Lahir di Suriname, 1956, Jannah dianggap salah satu penyanyi jazz terbaik di dunia. Setelah menuntaskan sekolah, ia kuliah hukum, karir yang ditinggalkannya untuk musik. Pada tahun 1991, sewaktu wisuda, album perdananya Take It from the Top (Mulai dari Atas) telah menjadi kenyataan dan ia telah memerankan salah satu peran utama dalam darma musical A Night at the Cotton Club. 1997 merupakan tahun yang sukses buat Jannah, dengan peran utama dalam Joe the Musical, tampil untuk TOP Uni-Eropa dan untuk kepala negara-negara Eropa dan mantan presiden AS Bill Clinton beserta istrinya Hillary. Denise Janah mengajra di Konservatorium Rotterdam dan memberi lokakarya dan kelas master di Belanda, Suriname dan As. Pada tahun 2001, atas undangan Winternachten, jannah mulai menyanyikan puisi, didampingi musik yang digubahnya sendiri. Ini membawa undangan pada berbagai festival sastra, di antaranya Winternachten di kepulauan Antilles dan Indonesia. CD lagu-lagu puisinya diluncurkan di festival Winternachten January 2004 di Den Haag.
Lahir di Suriname, 1954, Gajadin pindah ke Belanda pada tahun 1972. Puisinya menggambarkan perubahan keseimbangan hidup umat Hindu yang meninggalkan Surinam. Meski bagian dari gerakan Sarnami (yang menggalakkan bahasa Surinam/Hindustan), tiga antologi puisi pertamanya ditulis dalam bahasa Belanda: Van erf tot skai (Dari tanah ke kulit imitasi, 1977). Kumpulan Kab ke vaad / Van wanneer een herinnering (Dari waktu ingatan, 1977) mengantologikan puisi Sarnami beserta terjemahannya ke dalam Bahasa Belanda. Dalam cerita-ceritanya, yang dikoleksi dalam Bari dopahar (Jam Terpanas pada Hari, 1989) ia mengenang dan menggambarkan negeri yang ditinggalkannya. Novel terbarunya adalah Schoorvoetige tijden (2000, Waktu-waktu Ragu).
Born in Aruba 1957, is one of St. Martin’s better-known and more serious poets. He has lived in Trinidad and the Netherlands and in the 1980s made St. Martin his home, where his first book, Illegal Truth was published in 1991. From the mid-1980s to the early 1990s, he became well known for his belief in Rastafari, for the recital of his thundering poetry at various cultural manifestations, as a budding actor, and as an organizer for the bus drivers association in the South of the island. Changa’s work was recently published in an anthology of St. Martin’s writings.
Alumni FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung (Unila). Bergiat di Komunitas Berkat Yakin (KoBER) sebagai sutradara dan direktur artistik. Telah bermain ataupun menyutradarai sekitar 20 pertunjukan teater. Aktif di kegiatan sastra tingkat lokal maupun nasional. Menjadi Ketua Komite Sastra, Dewan Kesenian Lampung (DKL). Puisi-puisinya dimuat di berbagai media dan antologi.
dilahirkan di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas tanggal 13 Juni 1948. Pendidikan formalnya hanya sampai SMAN II Purwokerto. Namun demikian beberapa fakultas seperti ekonomi, sospol, dan kedokteran pernah dijelajahinya. Semuanya tak ada yang ditekuninya. Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya yang mewarnai seluruh karya sastranya. Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala adalah novel trilogi, yang melukiskan dinamika kehidupan ronggeng di desa terpencil, Dukuh Paruk. Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda dan Jerman.
lahir pada 1946, novel pertamanya, Nathan Sid, berkisah tentang seorang anak laki-laki yang tumbuh di antara dua budaya: surga kolonial Indonesia dan Belanda yang membosankan setelah Perang Dunia Kedua. Ketertarikannya pada budaya lain terserap di seluruh karyanya, mulai dari catatan perjalanannya, Het beloofde land (Tanah yang dijanjikan), tentang petani-petani di Afrika Selatan, dan In Afrika, tentang perang di Mozambique, hingga Indische duinen, yang merupakan karya Van Dis yang paling berhasil. Buku terbarunya terbit pada 1999: Dubbelliefde (Cinta ganda), kisah personal tentang kedewasaan seorang laki-laki muda dan perwujudan perilaku seksual, politik dan spiritualnya. Dubbelliefde juga menjadi best-seller di Belanda.
Lahir di Rembang 10 Agustus 1944. Belajar di pesantren Lirboyo, Kediri, Krapyak, Yogyakarta dan Al-Azhar, Kairo dan Al-Azhar, Kairo. Saat di Kairo, ia kerap mengikuti forum baca puisi termasuk di Festival Mirbid X di Irak. Buku-buku puisinya antara lain: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem; Tadarus; Pahlawan dan Tikus; Rubaiyat Angin dan Rumput; dan Wekwekwek.
Art Center Denpasar, 22-24 Agustus 2003
Taman Budaya Surakarta, 25-26 Agustus 2003
Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta, 28-30 Agustus 2003

lahir di Semarang, 25 Desember 1968. Pernah kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Semarang dan Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Ia termasuk pendiri Gorong-Gorong Budaya dan tabloid DeTIK yang dibredel pada 1994. Di media itu ia menulis kolom di rubrik “Podium” yang kemudian diterbitkan sebagai Podium DeTIK (1995). Pendiri Yayasan Akubaca dan Jakarta School–Creative Learning Center. Buku kumpulan cerpennya Bidadari yang Mengembara (2004).
Barnabé [Abé ] Barreto Soares, lahir di Fohorem, Timor-Leste 1966. Completed his education at Menyelesaikan pendidikan di Sastra Inggris di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada. Berangkat ke Kanada untuk berpartisipasi dalam sebuah program pertukaran budaya pada bulan September 1991. Ketika hampir menyelesaikan program pertukaran tersebut, masaker Santa Cruz terjadi. Masaker itu merubah hidupnya secara total. Ia memutuskan tinggal di Kanada karena khawatir terhadap keselamatannya kalau kembali ke Indonesia. Buku kumpulan puisi pertamanya dalam bahasa Indonesia diterbitkan di Belanda pada 1995. Ia kembali lagi ke bumi Timor-Leste pada Juli, 2000. Kemudian ia bekerja pada misi PBB, UNTAET sebagai asisten informasi hingga 2002. Ia kemudian memulai kariernya sebagai seorang penerjemah dan saat ini masih bekerja pada misi